Bagi Nietszche, juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tak ada. Sementara nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada.
Nietzsche dan Camus
Dalam semangat membangun metafisika yang kokoh dan memeluk kebenaran secara mantap, kita diguncang oleh anomali, yang justru selalu hadir sebagai oase dalam kekeringan makna. Seringkali secara skeptis dan negatif disebut dua contoh Friedrich Nietzsche dan Albert Camus. Tak ayal Nietzsche adalah musuh agama, akibat warta lancangnya mengenai kematian Tuhan. Secara nyinyir ia mengatakan bahwa kebudayaan Eropa yang berciri Platoniko-Kristiani telah runtuh. Bangsa manusia segera akan memasuki abad nihilisme, ketika nilai-nilai dibalikkan dan kebenaran moral lama tak memadai lagi untuk diyakini. Sampai di sini saja kita sering membaca Nietzsche sehingga berakhir pada kesimpulan gegabah: Ia filsuf nihilis. Benarkah demikian? Boleh jadi. Namun alih-alih sekedar berpretensi menumbangkan tatanan moral dan nilai lama serta merintih pedih dalam gelimang pesimisme, ia justru menawarkan satu cara lain memandang dunia dan kebenarannya. Dalam übermencsh atau manusia-adi yang menari-nari di atas seutas tali yang rentan, melambangkan seorang manusia-beresiko yang bersedia berjerih tidak gegabah memilih secara apriori pembedaan sempit: baik-buruk, benar-salah. Baginya apa salahnya memeluk keduanya, toh seringkali yang kini kita bela sebagai benar suatu ketika justru dicaci maki sebagai kesesatan, dan sebaliknya yang kini kita gelontori hujatan justru tak mustahil suatu saat akan disembah-puja. Bagi Nietzsche tidak relevanlah pertanyaan: lalu mana yang benar? Ia hanya ingin menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang butuh-percaya, tak peduli isinya benar atau salah. Contoh mutakhir makin menjelaskan, misalnya begitu mudahnya orang berpindah-pindah agama, atau keyakinan ideologis yang ekstrem, atau simaklah betapa dapat dihitung dengan jari orang beragama yang paham betul saripati ajaran agamanya. Bahkan ia mengajak kita untuk tak mudah memercayai setiap ajakan menolak sesuatu, katakan ateisme. Dalam ateisme pun terdapat ambisi untuk percaya dan mencari pegangan, yakni percaya bahwa Tuhan tidak ada. Sains yang berpretensi menjadi ilmu yang objektif dan bebas-nilai sekalipun tak pelak seringkali jatuh dalam sekedar kebutuhan-untuk-percaya semata. Tampaklah bahwa Nietzsche tidak meminati metafisika, meski tak sedikit yang menuduhnya bermetafisika juga, karena bagi Nietzsche ‘ada’ itu adalah kehendak de Wille zur Macht (kehendak untuk kuasa). Tawarannya adalah afirmasi pada kehidupan, Ja-Sagen, bahwa hidup sudah sepantasnya diterima lengkap dengan suka cita dan deritanya, tak pada tempatnya kita sekedar memilih-milih yang enak-enak saja. Maka relevanlah apa yang seringkali ia katakan ‘hidup di permukaan secara mendalam’. Ia mencintai hidup apa adanya, amor fati. Justru di sinilah keutamaan manusia dipulihkan, tak sekedar terombang – ambing ambil dalam ketidakpastian yang terus diratapi sebagai takdir dan memenjara, melainkan manusia bebas-merdeka yang teguh karena ia sadar, paham akan arti hidup dan kehidupan. Itulah nilai bagi Nietzsche, bukan semata-mata perbuatan-perbuatan yang dilandasi pamrih dan diselubungi kesalehan demi nilai-nilai.
Albert Camus tak ubahnya Nietzsche. Ia dianggap penerusnya dan menggugat Allah dalam kaitannya dengan kenyataan duniawi yang absurd. Dunia yang konon digenggam Allah yang maha-kuasa namun disesaki derita dan kejahatan yang tak terpahami. Lantas apakah Camus jatuh dalam kemeranaan psikis dan absurditas mutlak yang akhirnya menganggap hidup ini tak bernilai? Tidak. Ketimbang sedih-meratap atau kasar-mengumpati Allah dan takdir, ia menawarkan sebuah perlawanan yang heroik. Yang ditolaknya: moralitas Kristen, dan titik tolaknya jelas:absurditas terkait problem of evil, melimpahnya kejahatan di tengah iman kepada Allah yang personal. Jika hidup ini absurd, apakah pilihannya lantas mengakhiri hidup ini lewat bunuh diri? Tidak. Camus sangat menentang bunuh diri! Alih-alih mengamini nihilisme zamannya ia mengajak manusia melawan absurditas sekuat tenaga, seperti gambaran Sisifus dalam bukunya The Myth of Sisyphus. Ketika Allah telah mati dan dunia absurd, ia menemukan manusialah yang harus berjuang. Artinya ia percaya pada manusia. Metafisika Camus adalah “transendensi-horisontal”, pada humanitas.
(berbagai sumber)