<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Philosophi Mingguan Indonesia</title>
	<atom:link href="http://philosophi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://philosophi.wordpress.com</link>
	<description>Pers Praktis untuk Keagungan Bangsa Kepulauan Nusantara</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Oct 2007 13:28:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='philosophi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Philosophi Mingguan Indonesia</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://philosophi.wordpress.com/osd.xml" title="Philosophi Mingguan Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://philosophi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nihilisme Albert Camus</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-albert-camus/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-albert-camus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 13:28:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nihilisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-albert-camus/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Nietszche, juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tak ada. Sementara nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada. Nietzsche dan Camus Dalam semangat membangun metafisika yang kokoh dan memeluk kebenaran secara mantap, kita diguncang oleh anomali, yang justru selalu hadir sebagai oase dalam kekeringan makna. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=11&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi Nietszche, juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tak ada. Sementara nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada. </p>
<p>Nietzsche dan  Camus<br />
            Dalam semangat membangun metafisika yang kokoh dan memeluk kebenaran secara mantap, kita diguncang oleh anomali, yang justru selalu hadir sebagai oase dalam kekeringan makna. Seringkali secara skeptis dan negatif disebut dua contoh Friedrich Nietzsche dan Albert Camus. Tak ayal Nietzsche adalah musuh agama, akibat warta lancangnya mengenai kematian Tuhan. Secara nyinyir ia mengatakan bahwa kebudayaan Eropa yang berciri Platoniko-Kristiani telah runtuh. Bangsa manusia segera akan memasuki abad nihilisme, ketika nilai-nilai dibalikkan dan kebenaran moral lama tak memadai lagi untuk diyakini. Sampai di sini saja kita sering membaca Nietzsche sehingga berakhir pada kesimpulan gegabah: Ia filsuf nihilis. Benarkah demikian? Boleh jadi. Namun alih-alih sekedar berpretensi menumbangkan tatanan moral dan nilai lama serta merintih pedih dalam gelimang pesimisme, ia justru menawarkan satu cara lain memandang dunia dan kebenarannya. Dalam übermencsh atau manusia-adi yang menari-nari di atas seutas tali yang rentan, melambangkan seorang manusia-beresiko yang bersedia berjerih tidak gegabah memilih secara apriori pembedaan sempit: baik-buruk, benar-salah. Baginya apa salahnya memeluk keduanya, toh seringkali yang kini kita bela sebagai benar suatu ketika justru dicaci maki sebagai kesesatan, dan sebaliknya yang kini kita gelontori hujatan justru tak mustahil suatu saat akan disembah-puja. Bagi Nietzsche tidak relevanlah pertanyaan: lalu mana yang benar? Ia hanya ingin menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang butuh-percaya, tak peduli isinya benar atau salah. Contoh mutakhir makin menjelaskan, misalnya begitu mudahnya orang berpindah-pindah agama, atau keyakinan ideologis yang ekstrem, atau simaklah betapa dapat dihitung dengan jari orang beragama yang paham betul saripati ajaran agamanya. Bahkan ia mengajak kita untuk tak mudah memercayai setiap ajakan menolak sesuatu, katakan ateisme. Dalam ateisme pun terdapat ambisi untuk percaya dan mencari pegangan, yakni percaya bahwa Tuhan tidak ada. Sains yang berpretensi menjadi ilmu yang objektif dan bebas-nilai sekalipun tak pelak seringkali jatuh dalam sekedar kebutuhan-untuk-percaya semata. Tampaklah bahwa Nietzsche tidak meminati metafisika, meski tak sedikit yang menuduhnya bermetafisika juga, karena bagi Nietzsche ‘ada’ itu adalah kehendak de Wille zur Macht (kehendak untuk kuasa). Tawarannya adalah afirmasi pada kehidupan, Ja-Sagen, bahwa hidup sudah sepantasnya diterima lengkap dengan suka cita dan deritanya, tak pada tempatnya kita sekedar memilih-milih yang enak-enak saja. Maka relevanlah apa yang seringkali ia katakan ‘hidup di permukaan secara mendalam’. Ia mencintai hidup apa adanya, amor fati. Justru di sinilah keutamaan manusia dipulihkan, tak sekedar terombang – ambing ambil dalam ketidakpastian yang terus diratapi sebagai takdir dan memenjara, melainkan manusia bebas-merdeka yang teguh karena ia sadar, paham akan arti hidup dan kehidupan. Itulah nilai bagi Nietzsche, bukan semata-mata perbuatan-perbuatan yang dilandasi pamrih dan diselubungi kesalehan demi nilai-nilai.<br />
         Albert Camus tak ubahnya Nietzsche. Ia dianggap penerusnya dan menggugat Allah dalam kaitannya dengan kenyataan duniawi yang absurd. Dunia yang konon digenggam Allah yang maha-kuasa namun disesaki derita dan kejahatan yang tak terpahami. Lantas apakah Camus jatuh dalam kemeranaan psikis dan absurditas mutlak yang akhirnya menganggap hidup ini tak bernilai? Tidak. Ketimbang sedih-meratap atau kasar-mengumpati Allah dan takdir, ia menawarkan sebuah perlawanan yang heroik. Yang ditolaknya: moralitas Kristen, dan titik tolaknya jelas:absurditas terkait problem of evil, melimpahnya kejahatan di tengah iman kepada Allah yang personal.  Jika hidup ini absurd, apakah pilihannya lantas mengakhiri hidup ini lewat bunuh diri? Tidak. Camus sangat menentang bunuh diri! Alih-alih mengamini nihilisme zamannya ia mengajak manusia melawan absurditas sekuat tenaga, seperti gambaran Sisifus dalam bukunya The Myth of Sisyphus. Ketika Allah telah mati dan dunia absurd, ia menemukan manusialah yang harus berjuang. Artinya ia percaya pada manusia. Metafisika Camus adalah “transendensi-horisontal”, pada humanitas.</p>
<p>(berbagai sumber)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=11&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-albert-camus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjual Nihilisme dalam Retorika, Demokrasi dan Sofisme</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/menjual-nihilisme-dalam-retorika-demokrasi-dan-sofisme/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/menjual-nihilisme-dalam-retorika-demokrasi-dan-sofisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 13:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nihilisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/menjual-nihilisme-dalam-retorika-demokrasi-dan-sofisme/</guid>
		<description><![CDATA[Demokrasi menuntut keahlian berpidato. Ini konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketika tiap individu ingin dan berhak turut serta berbicara dan mengetahui apa yang telah dan akan terjadi pada wilayahnya, pada saat itu pula retorika terjadi. Kebebasan yang dibawa demokrasi memungkinkan dan juga mengharuskan orang untuk pandai dalam berpikir dan renyah dalam menyampaikan. Jika orang yang berbicara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=10&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demokrasi menuntut keahlian berpidato. Ini konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketika tiap individu ingin dan berhak turut serta berbicara dan mengetahui apa yang telah dan akan terjadi pada wilayahnya, pada saat itu pula retorika terjadi. </p>
<p>Kebebasan yang dibawa demokrasi memungkinkan dan juga mengharuskan orang untuk pandai dalam berpikir dan renyah dalam menyampaikan. Jika orang yang berbicara tidak meyakinkan dan tidak sedap diikuti, orang pun bebas untuk berpaling. Kondisi seperti itu tentu merugikan bagi sejumlah orang yang memiliki kepentingan tertentu. <span id="more-10"></span></p>
<p>Jika retorika dekat dengan demokrasi, lain halnya dengan sistem monarki absolut atau fasis. Dalam sistem-sistem semacam itu, keahlian berpikir atau berbicara cenderung tidak diperhatikan. Sebab, tidak dibutuhkan keterampilan berbicara untuk, misalnya, memobilisasi orang atau massa agar ia melakukan sesuatu. Sudah ada perangkat negara yang senantiasa siap melakukan pemaksaan, dan juga kekerasan. Tak diperlukan penumbuhan sikap yang seolah- olah berasal dari individu yang disasar. </p>
<p>Dalam bahasa Yunani, orang yang cerdik pandai atau ahli berpidato dan memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan disebut sebagai sophos. Sophos, atau yang biasa disebut sebagai sofis, adalah gelar bagi tiap-tiap orang yang pandai bersilat lidah. </p>
<p>Dengan memakai teknik argumentasi baru (yang sebelumnya tidak dikenal) dan didasarkan pada eksploitasi skeptisisme, mereka meremehkan dan mengolok-olok seluruh filosof yang berusaha mencari dan memegang kebenaran, terutama Parmenides (515-450 SM) yang meyakini bahwa segala sesuatu tak ada. Yang berubah hanyalah penampakannya belaka. Kaum sofis memandang, kita tidak akan pernah mampu mengetahui kebenaran universal. </p>
<p>Pandangan ini memang mirip dengan perkataan Herakleitos (540-480 SM) yang sangat terkenal, pantha rei khai uden menei, yang artinya semua mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal mantap. Hanya saja, Herakleitos menujukan konsepsinya pada kosmos atau dunia makro. Adapun kaum sofis pada manusia atau dunia mikro. </p>
<p>Kontroversi pun terjadi. Lalu muncul dua pendapat umum yang bernada menyerang. Pertama, tindakan kaum sofis dinilai sebagai pelecehan terhadap ilmu suci. Arti penting filsafat di Yunani barangkali memang sebanding dengan tradisi religius di Timur Tengah. Dan, asumsi pelecehan juga dikarenakan kaum sofis tidak semata mengajarkan pengetahuan demi kebaikan dan kebenaran itu sendiri, melainkan menjualnya demi keperluan hidup. </p>
<p>Kedua, kaum sofis telah melecehkan kebenaran. Pendapat kedua ini terutama datang dari Sokrates, yang kemudian menjadi penantang berat guru-guru itu dalam beradu pendapat. Sokrates memang unggul. Namun, sesungguhnya Sokrates berada pula dalam jalur yang sama dengan guru-guru sofis. Gaya berdebatnya juga selalu menghasilkan ketidaktahuan atau kebingungan mengenai kenyataan. </p>
<p>Tak ada kebenaran </p>
<p>Dengan membuat batas standar pengetahuan yang tinggi ketimbang kaum sofis, seperti menerapkan teks-teks dialektika ketat, Sokrates menjadi jauh lebih radikal. Tapi apanya yang melecehkan kebenaran sehingga Sokrates berang? Di sini kita mesti memeriksa sekelumit doktrin sentral sofisme. Beberapa pemikiran yang kelak disebut sebagai revolusi Einstein, posmodern, dan sederet istilah lainnya, yang ternyata menunjukkan kesamaan dengan doktrin kaum sofis itu. </p>
<p>Pada dasarnya, kaum sofis memandang kebenaran sejati itu tidak ada. Kebenaran bagi mereka hanyalah perubahan demi perubahan. Dan, karena kebenaran sejati tidak ada, serta tidak akan pernah tercapai, maka hilanglah perbedaan yang benar dan yang salah. Masing-masing memiliki kebenaran yang berbeda satu sama lain. </p>
<p>Akan tetapi, kebenaran yang dianut masing-masing orang pun akan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Konsekuensinya, relativisme mencuat dari skeptisisme absolut ini. Relativitas mereka menerjang tanpa lantai. Filsafat mereka pun akhirnya terkesan sebagai sebuah pembongkaran ketimbang pembangunan. </p>
<p>Namun, meskipun terkesan lantai mereka adalah keraguan absolut, sesungguhnya kita bisa merasakan, kaum sofis sedang tidak membawa ajaran tentang keraguan atau relativisme. Mereka justru sedang mengabarkan suatu keyakinan yang sangat teguh mengenai dunia. </p>
<p>Protagoras (490-420 SM), salah satu guru sofis ternama, meyakini manusia adalah ukuran segalanya. Murid Herakleitos ini pun berpendapat segala hal mesti ditinjau dari pendirian manusia sendiri, sebab kebenaran umum (universal) tak ada. Keyakinannya ini didasarkan pada pandangan: sesuatu yang terpandang berlainan dengan sesuatu yang dipandang. </p>
<p>Ketika kita melihat sesuatu, kita memang dapat mengetahui tentang adanya sesuatu itu, tapi itu bukanlah pengetahuan tentang sesuatu itu sendiri. Ia tetap tinggal di dasar pengetahuan kita. Oleh karena itu, satu-satunya yang dapat kita ketahui adalah kesan tentang sesuatu itu. Dengan kata lain, kesanlah satu-satunya kenyataan. Karena itu pula, tiap-tiap pandangan bersifat subyektif. </p>
<p>Selain Protagoras, ada pula guru bernama Gorgias (483-376 SM), yang secara radikal meyakini: (segala) sesuatu itu tak ada. Tiga alasan kenapa ia mengatakan itu. Pertama, jika ada sesuatu, mestilah ia terjadi selamanya dan ada selamanya. Jika terjadinya sesuatu dari yang ada, maka ia harus selalu ada selamanya. Dan itu mustahil. Begitu pun yang timbul dari yang tidak ada, atau yang sering disebut dengan creatio ex nihilio, penciptaan dari yang tiada. Sebab tidak ada memang berarti tidak ada. </p>
<p>Kedua, jika sesuatu itu ada, ada itu tidak dapat diketahui. Di sini Gorgias mengikuti pendapat Protagoras tentang kesan: &#8220;ada&#8221; itu hanyalah pengetahuan bahwa sesuatu itu terpandang, bukan sesuatu itu sendiri yang masuk ke dalam pikiran. </p>
<p>Ketiga, bila kita mengetahui sesuatu, kita tidak dapat mengabarkannya kepada orang lain. Sebab, tiap gambar berlainan dengan sesuatu yang digambar. Kita tak dapat membawa dan mengabarkan sesuatu yang hanya berupa kesan sebagai sesuatu itu sendiri. </p>
<p>Pendapat Gorgias ini kita sebut sebagai nihilisme. Namun, perlu dicatat, nihilisme pada dasarnya memiliki dua pengertian. Bagi Nietszche, juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tak ada. Sementara nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada. </p>
<p>Demokrasi anarki </p>
<p>Filsafat sofisme ini mengguncangkan seluruh keyakinan yang ada, termasuk sistem pergaulan hidup dalam kenegaraan. Banyak orang menuding dengan tidak ramah pada kaum ini. Kekacauan hidup orang dalam pergaulan segera dialamatkan pada kaum sofis yang dinilai menyampingkan tanggung jawab. Orang-orang menganggap pengaruh dari kaum sofislah hingga demokrasi yang telah berjalan baik, berpaling menjadi anarki. </p>
<p>Tahun 477 SM, ada kesepakatan menjadikan Athena sebagai pusat kekuatan. Dan, pada pertengahan abad kelima SM, bangsa Yunani berhasil memenangi pertempuran melawan Persia. Ini membuat Athena semakin berkilat sinarnya. Lambat laun, kota yang dipimpin Perikles itu menjadi pusat peradaban Yunani. Saat itu aktivitas seperti perdagangan, pengetahuan, filsafat, dan seni mencapai kemajuan luar biasa. </p>
<p>Bagai pepatah, &#8220;ada gula ada semut&#8221;, penduduk di wilayah sekitar berduyun mendatangi Athena. Termasuk di antaranya guru-guru sofis, yang datang melakukan praktik perdagangan pengetahuan demi kebutuhan hidup. Ilmu pengetahuan dijual bagai rempah-rempah di &#8220;pasar&#8221; Athena. </p>
<p>Saat itulah filsafat mulai tampak bergeser. Dari yang semula sebagai keyakinan orang untuk pencarian kebenaran, berubah karakternya sebagai usaha menundukkan orang-orang dengan daya kata-kata. Bentuk dan kemasan berpidato dianggap lebih penting ketimbang prinsip-prinsip yang ada di dalamnya. Karena itu, keyakinan pun hilang. </p>
<p>Akan tetapi, penggerogotan filsafat Yunani bukan hanya karena itu. Jatuhnya Athena oleh bangsa Sparta, 431-404 SM, turut memberi andil bagi senyapnya era emas filsafat itu. </p>
<p>Masa-masa penguasaan Sparta sering disebut sebagai masa kegelapan Yunani. Bagi sebagian orang, kehancuran itu dimulai dari kedatangan kaum sofis, yang tidak saja memperlakukan ilmu suci seenaknya di tengah &#8220;pasar&#8221;, tapi juga mendangkalkan tanggung jawab dan rasa hormat pada kebenaran. </p>
<p>Sementara bagi sebagian yang lain, zaman sofistik itu adalah zaman kesadaran dan pembukaan pikiran. Sofisme adalah pemicu lahirnya epistemologi. Pukulannya yang telak pada Parmenides dan seluruh kaum materialis Yunani—yang meyakini kebenaran melekat pada benda—membuat sofisme menjadi gerak pertama dalam meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan. Walau begitu, bagi kaum positivis, sofisme tetap saja diartikan sebagai kesesatan berpikir yang disengaja untuk menyesatkan orang lain. </p>
<p>Tengku Dhani Iqbal Penulis Buku, Menetap di Jakarta / Kompas</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=10&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/menjual-nihilisme-dalam-retorika-demokrasi-dan-sofisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nihilisme ala Nietzcshe</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-ala-nietzcshe/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-ala-nietzcshe/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 13:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nihilisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-ala-nietzcshe/</guid>
		<description><![CDATA[Nietzcshe pernah ngomong kalo nihilisme bukan sekedar sebuah kontemplasi filosofis tentang kesia-siaan nilai dari segala sesuatu, bukan juga sekedar seruan tentang kehancuran segala sesuatu. Nihilisme, pada prinsipnya merupakan ajaran yang menceritakan tentang kehancuran nilai, memiliki titik akhir, yaitu ketiadaan. Nihilisme berarti segala sesuatu adalah nihil. Tulisannya tentang &#8220;keinginan untuk berkuasa&#8221; berisi gagasan tentang nihilisme yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=9&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nietzcshe pernah ngomong kalo nihilisme bukan sekedar sebuah kontemplasi filosofis tentang kesia-siaan nilai dari segala sesuatu, bukan juga sekedar seruan tentang kehancuran segala sesuatu. Nihilisme, pada prinsipnya merupakan ajaran yang menceritakan tentang kehancuran nilai, memiliki titik akhir, yaitu ketiadaan. Nihilisme berarti segala sesuatu adalah nihil.<br />
Tulisannya tentang &#8220;keinginan untuk berkuasa&#8221; berisi gagasan tentang nihilisme yang meencoba mendudukkan manusia menjadi Tuhan bagi dirinya dan menegasikan Tuhan sebenarnya. <span id="more-9"></span>Keinginan untuk berkuasa itu, yang apabila diterjemahkan dalam tataran ekstrim, berarti tidak ada sesuatu pun yang menguasai manusia, termasuk Tuhan. Nihilisme dapat disituasikan sebagai bentuk kehidupan yang dimana manusia secara eksplisit tidak mengakui adanya landasan yang dianggap mutlak, yang oleh Nietszche diteriakkan sebagai kematian Tuhan.</p>
<p>Nihilisme ala Nietzsche, tidak menampakkan konsistensi, juga tidak dapat diartikan secara harafiah. Nietzsche, seperti diakuinya sendiri dalam beberapa tulisannya, meskipun menolak agama dan menyatakan kematian Tuhan, tidak pernah mau disebut sebagai ateis apalagi antiteis. Dia juga mnguraikan bahwa bahwa tetap mengakui keberadaan Tuhan, tapi dibunuh sendiri oleh manusia. Pembunuhan itu akhirnya berakibat pada kebingunan manusia itu sendiri. Tapi ide tentang kematian Tuhan tetap melandasi pemikiran dia.<br />
Kematian Tuhan bagi Nietzsche tidak hanya merupakan persoalan filosofis lagi, melainkan persoalan kultural dan sosiologis. Tidak berdebat mengenai ada atau tidaknya Tuhan. Tapi secara kultural dan sosiologis, masyarakat Eropa pada saat itu telah menunjukkan bahwa manusia mulai meninggalkan perhatiannya pada iman dan kepercayaan.<br />
Yah apapun itu, pada akhirnya toh Nietzsche memilih untuk &#8220;lari&#8221; dari realitas sosial dan kultural&#8230; dan jadi gila.. :</p>
<p>Nietscshe itu nggak konsisten dengan nihilismnya&#8230;. kalo dia menjadi nihilis maka seharusnya dia tidak menjadi filsuf dan berfilsafat. Karena filsafat menurut teori ilmu filsafat adalah ajaran tentang kebenaran, kebenaran menurut filsuf. Jadi ketika seorang nihilis mengungkapkan &#8220;kebenaran&#8221; versinya, maka dia nggak konsisten dgn nihilismnya. (berbagai sumber)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=9&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme-ala-nietzcshe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nihilisme</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 13:09:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nihilisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme/</guid>
		<description><![CDATA[Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=8&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.<span id="more-8"></span></p>
<p>Beberapa filsuf yang pernah menulis mengenai nihilisme adalah Friedrich Nietzsche dan Martin Heidegger. Istilah nihilisme sendiri pertama dicetuskan oleh Ivan Turgenev dan diperkenalkan ke dunia filosofi oleh Friedrich Heinrich Jacobi (1743–1819).</p>
<p>Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang &#8216;kebenaran&#8217; atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai &#8220;sang pembunuh Tuhan&#8221; (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme [1] (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).</p>
<p>Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis moderen Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.<br />
Katanya:<br />
&#8220;Saya bukan seorang manusia, saya adalah sebuah dinamit!&#8221;<br />
&#8220;Yang penting bukanlah kehidupan kekal (das ewige Leben), melainkan kekal-nya &#8216;yang menghidupkan&#8217; (die ewige Lebendigkeit)! &#8220;<br />
&#8220;Tuhan sudah mati&#8221; </p>
<p>^ nihilisme di sini juga dipahami sebagai &#8216;kedatangan kekal yang sama (atau dalam terminologi Nietzsche : &#8216;die Ewige Wiederkehr des Gleichen&#8217;) yang merupakan siklus berulang-ulang dalam kehidupan tanpa makna berarti di baliknya seperti datang dan perginya kegembiraan, duka, harapan, kenikmatan, kesakitan, ke-khilafan, dan seterusnya&#8230; </p>
<p>Ketika Tuhan ternihilkan,<br />
maka tidak ada dosa dan pahala.</p>
<p>Saya sih mau ikut nimbrung tentang nenek moyang kita &#8220;mungkin&#8221; berasal dari<br />
&#8220;neraka&#8221;.<br />
Entahlah &#8220;mungkin&#8221; dan &#8220;neraka&#8221; secara ansich atau juga hanya sebagai<br />
permainan kata  dalam rimba semiotika.<br />
Atau hanya gelembung kognitif dalam ruang nisbi. Atau mungkin sebuah<br />
ungkapan diskontinuitas antara tanda dan petanda sebagaimana<br />
pada  fragmen:</p>
<p>  Ketika Tuhan ternihilkan,<br />
  maka tidak ada dosa dan pahala.</p>
<p>  Lalu apa yang kita pegang, ketika semua dalam keadaan nihil? Ketika<br />
beradada dalam wilayah nisbi? dan hanya sekekdar gelembung kognitif belaka?<br />
Tidak ada sama sekali, saya kira, kecuali kita sendiri yang jatuh tersungkur<br />
dalam nihilisme itu sendiri. Dimana kaki kita bersandar ketika kita kena<br />
demam nihilisme? Ya, itu mungkin yang kita namakan neraka, sebuah &#8220;tanda&#8221;<br />
yang merupakan oposan dari &#8220;surga&#8221;  dalam sistem opisisi biner. Sebuah<br />
wilayah dimana &#8220;Kehampaan&#8221;, &#8220;Kekosongan&#8221;, &#8220;ketidakberartian&#8221;,&#8221;kekacauan<br />
makna&#8221; atau turbolensi makna lainnya. &#8220;Neraka&#8221; di sini tidaklah berada jauh<br />
dari wilayah yang tidak terdefinisikan, melainkan berada diantara kita dan<br />
bersama kita, maka ungkapan &#8220;neraka&#8221; dalam keseharian menjadi riil. Boleh<br />
jadi nenek moyang kita berasal dari neraka ini, neraka yang terdefinisikan,<br />
atau boleh jadi surga juga memunculkan sebuah generasi baru, semacam kita,<br />
dalam sistem hereditas sosial. Sesuatu yang logis,  saya kira. Persoalannya,<br />
kita tidak hanya ada dalam wilayah yang terdefinisikan, tidak hanya dalam<br />
wilayah nihilisme, melainkan juga yang tidak terdefiniskan, melampau<br />
nihilisme. Karena sesuai dengan fakta, cerapan persepsi manusia sangat<br />
dibatasi secara ansich oleh wilayah tempat persepsi itu sendiri berada dan<br />
fakta bahwa secara empiris dualisme makna hadir di mana-mana. Maka diluar<br />
sana ada sesuatu yang tidak kita pahami, mungkin itu yang dinamakan &#8220;neraka&#8221;<br />
dan &#8220;surga&#8221; dengan definisi yang lain. Boleh jadi, di sana ada Tuhan, ada<br />
neraka dan ada surga. Meski pada dimensi sekarang, kita membuat sebuah<br />
hipotesa &#8220;nihilisme&#8221;, dimensi lain tidak pernah terganggu dalam keadaan yang<br />
sesungguhnya. Sebagaimana, &#8220;bulan tetap berputar&#8221; meski kita membuat sebuah<br />
hipotesa &#8220;bulan sudah berhenti berputar&#8221;.</p>
<p>    Ketika Tuhan ternihilkan,<br />
    maka tidak ada dosa dan pahala.</p>
<p>    hanya sebuah langkah pertama dalam permainan bahasa, yang berujung pada<br />
diskontnuitas itu sendiri. Bagaimana kita harus bertanggung jawab pada diri<br />
kita sendiri kalau memang itu sebagai sebuah hipotesa yang tidak bisa diuji?<br />
Andalah yang lebih tahu.</p>
<p>Gerbang 1 : Nihilisme Nietzsche; musuh metafisika</p>
<p>Gerbang pertama yang dimasuki adalah ide cemerlang nihilisme Nietzsche berupa aforisme “Nihilisme hadir di depan pintu: dari mana datangnya yang paling aneh dari semua pintu”. Secara sederhana, filsafat nihilisme bertujuan untuk memutuskan dan mengakhiri semua klaim terhadap kebenaran pemikiran metafisis tradisional, dalam suatu proses yang melompat hanya ketika ia mencapai titik dimana “kebenaran-kebenaran” prasangka tersebut seperti Tuhan dan jiwa diperlihatkan sebagai nilai yang tidak kurang subjektif dan tidak lebih dari “kekeliruan-kekeliruan” ketimbang keyakinan dan pendapat manusia lainnya.</p>
<p>Gagasan nihilisme Nietzsche menelanjangi tradisi pemikiran-metafisika Barat yanag saling bergantung. Pemikiraan nihilistik berusaha meradikalkan kebenaran metafisis hanyalah ungkapan subjektif individu maupun kelompok sosial tertentu, bukan yang tak terbantah, hakikat dunia Tuhan, manusia dan alam yang tak berubah.</p>
<p>Yang ada menurut Nietzsche hanyalah kehendak untuk berkuasa setelah ia menihilkan dan merelatifkan segala sesuatu. Orisinalitas gagasan nihilisme Nietzsche berujung pada pembunuhan Tuhan. Manusia hanya didorong oleh suatu kehendak untuk berkuasa, (Will to Power). Semua impuls tindakan kita berasal dari kehendak untuk berkuasa. Agama menghotbahkan sesuatu yang bertentangan dengan will to power, melalui gagasan-gagasannya akan kerendahan hati, cinta antar saudara dan lain-lain, tetapi, itu hanyalah penyamaran yang cerdik dari kehendak untuk berkuasa-bahkan dominasi-.akhirnya nihilisme menelanjangi segenap sistem nalar sebagai sistem-sistem persuasi, dan untuk memperlihatkan bahwa logika-landasan pemikiraan metafisika rasional- hanyalah sejenis retorika.</p>
<p>(berbagai sumber)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=8&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/12/nihilisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/filsafat/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/filsafat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 14:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/filsafat/</guid>
		<description><![CDATA[Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = &#8220;kebijaksanaan&#8221;). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=7&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = &#8220;kebijaksanaan&#8221;). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut &#8220;filsuf&#8221;.<span id="more-7"></span></p>
<p>Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa &#8220;filsafat&#8221; adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis.[1] ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.</p>
<p>Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan couriousity &#8216;ketertarikan&#8217;.</p>
<p>1 Tema<br />
2 Klasifikasi filsafat<br />
2.1 Filsafat Barat<br />
2.2 Filsafat Timur<br />
2.3 Filsafat Timur Tengah<br />
2.4 Filsafat Islam<br />
2.5 Filsafat Kristen<br />
3 Munculnya Filsafat<br />
4 Sejarah Filsafat Barat<br />
4.1 Klasik<br />
4.2 Abad Pertengahan<br />
4.3 Modern<br />
4.4 Kontemporer </p>
<p>Tema<br />
Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Tema-tema itu adalah: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.</p>
<p>Tema pertama adalah ontologi. Ontologi membahas tentang masalah “keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata), misalnya tentang keberadaan alam semesta, makhluk hidup, atau tata surya.</p>
<p>Tema kedua adalah epistemologi. Epistemologi adalah tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.</p>
<p>Tema ketiga adalah aksiolgi, yaitu tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia. Nilai sosial . Sementara itu, norma sosial adalah</p>
<p>Klasifikasi filsafat<br />
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”. Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”.</p>
<p>Filsafat Barat<br />
‘‘‘Filsafat Barat’’’ adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno.</p>
<p>Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.</p>
<p>Filsafat Timur<br />
‘‘‘Filsafat Timur’’’ adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Siddharta Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.</p>
<p>Filsafat Timur Tengah<br />
‘‘‘Filsafat Timur Tengah’’’ ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari sejarah, para filsuf dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam (dan juga beberapa orang Yahudi!), yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah: Avicenna(Ibnu Sina), Ibnu Tufail, Kahlil Gibran (aliran romantisme; kalau boleh disebut bergitu)dan Averroes.</p>
<p>Filsafat Islam<br />
‘‘‘Filsafat Islam’’’ bukanlah filsafat Timur Tengah. Bila memang disebut ada beberapa nama Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih &#8216;mencari Tuhan&#8217;, dalam filsafat Islam justru Tuhan &#8216;sudah ditemukan.&#8217;</p>
<p>Filsafat Kristen<br />
‘‘‘Filsafat Kristen’’’ mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Tak heran, filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas, Santo Bonaventura, dsb.</p>
<p>Munculnya Filsafat<br />
Filsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.</p>
<p>Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.</p>
<p>Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.</p>
<p>Sejarah Filsafat Barat<br />
Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik, Abad Pertengahan, Modern dan Kontemporer.</p>
<p>Klasik<br />
“Pra Sokrates”: Thales &#8211; Anaximander &#8211; Anaximenes &#8211; Pythagoras &#8211; Xenophanes – Parmenides &#8211; Zeno &#8211; Herakleitos &#8211; Empedocles – Democritus &#8211; Anaxagoras</p>
<p>&#8220;Zaman Keemasan&#8221;: Sokrates &#8211; Plato &#8211; Aristoteles</p>
<p>Abad Pertengahan<br />
&#8220;Skolastik&#8221;: Thomas Aquino</p>
<p>Modern<br />
Machiavelli &#8211; Giordano Bruno &#8211; Francis Bacon &#8211; Rene Descartes &#8211; Baruch de Spinoza- Blaise Pascal &#8211; Leibniz &#8211; Thomas Hobbes &#8211; John Locke &#8211; George Berkeley &#8211; David Hume &#8211; William Wollaston &#8211; Anthony Collins &#8211; John Toland &#8211; Pierre Bayle &#8211; Denis Diderot &#8211; Jean le Rond d&#8217;Alembert &#8211; De la Mettrie &#8211; Condillac &#8211; Helvetius &#8211; Holbach &#8211; Voltaire &#8211; Montesquieu &#8211; De Nemours &#8211; Quesnay &#8211; Turgot &#8211; Rousseau &#8211; Thomasius &#8211; Ch Wolff &#8211; Reimarus &#8211; Mendelssohn &#8211; Lessing &#8211; Georg Hegel &#8211; Immanuel Kant &#8211; Fichte &#8211; Schelling &#8211; Schopenhauer &#8211; De Maistre &#8211; De Bonald &#8211; Chateaubriand &#8211; De Lamennais &#8211; Destutt de Tracy &#8211; De Volney &#8211; Cabanis &#8211; De Biran &#8211; Fourier &#8211; Saint Simon &#8211; Proudhon &#8211; A. Comte &#8211; JS Mill &#8211; Spencer &#8211; Feuerbach &#8211; Karl Marx &#8211; Soren Kierkegaard &#8211; Friedrich Nietzsche &#8211; Edmund Husserl</p>
<p>Kontemporer<br />
Jean Baudrillard &#8211; Michel Foucault &#8211; Martin Heidegger &#8211; Karl Popper &#8211; Bertrand Russell &#8211; Jean-Paul Sartre – Albert Camus &#8211; Jurgen Habermas &#8211; Richard Rotry &#8211; Feyerabend- Jacques Derrida &#8211; Mahzab Frankfurt</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=7&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/filsafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Manusia Terpenjara dalam Gen</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/ketika-manusia-terpenjara-dalam-gen/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/ketika-manusia-terpenjara-dalam-gen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 06:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Evolusi Baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/ketika-manusia-terpenjara-dalam-gen/</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua orang guru besar yang berkantor di Museum of Comparative Zoologi milik Harvard University. Mereka, meski ruangannya berbeda hanya satu lantai, jarang sekali mau bertegur sapa. Bahkan, untuk waktu yang lama, keduanya tidak bercakap-cakap kendati bertemu di elevator. Penyebabnya adalah persengketaan soal mana yang benar: gen atau lingkungan yang paling menentukan pola perilaku seseorang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=6&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua orang guru besar yang berkantor di Museum of Comparative Zoologi milik Harvard University. Mereka, meski ruangannya berbeda hanya satu lantai, jarang sekali mau bertegur sapa. Bahkan, untuk waktu yang lama, keduanya tidak bercakap-cakap kendati bertemu di elevator. Penyebabnya adalah persengketaan soal mana yang benar: gen atau lingkungan yang paling menentukan pola perilaku seseorang. <span id="more-6"></span></p>
<p>Yang seorang bernama Edward O. Wilson, pelopor gigih ide dominasi genetika, dan yang lain Richard C. Lewontin, peyakin sejati bahwa lingkungan lebih dominan dalam menentukan perilaku seseorang. Ini pengkubuan yang agak aneh, lantaran Wilson adalah seorang naturalis, sedangkan Lewontin justru ahli genetika. Mereka sama-sama dilahirkan kira-kira setengah abad setelah kematian Charles Darwin dan belum lama sama-sama meluncurkan buku baru: Wilson menerbitkan The Future of Life dan Lewontin mempublikasikan kumpulan esainya, It Ain’t Necessarily So: The Dream of the Human Genome and Other Illusions. Buku serupa ditulis penulis-penulis lain dari kedua benteng. </p>
<p>Dua kubu itu masih bertarung keras hingga hari ini. Pertarungan ini menarik begitu rupa karena, di samping kedua dedengkot tadi, terlibat pula karakter-karakter hebat seperti Stephen Jay Gould, ahli biologi dari Harvard University yang berdiri di samping Lewontin, dan Richard Dawkins, ahli biologi dari Oxford University yang berada di sisi Wilson. Begitu panas, sehingga kalangan media internasional menjuluki perdebatan itu sebagai &#8220;Perang Darwin&#8221;. </p>
<p>Jejaknya memang berasal dari Charles Darwin, sosok besar abad ke-19 yang mengubah pandangan-dunia secara radikal lewat dua mantra ajaibnya: &#8220;seleksi alam&#8221; (natural selection) dan &#8220;membunuh untuk hidup&#8221; (survival of the fittest&#8211;sebuah istilah yang dimunculkan oleh Herbert Spencer dari masa sebelumnya saat membahas filsafat evolusi). Darwin meninggalkan warisan yang berbobot dan kontroversial, yakni teori evolusi bahwa spesies berkembang dari bentuknya yang paling sederhana menuju yang paling rumit. Proses itu berlangsung melalui seleksi alam dan prinsip &#8220;yang layak yang akan terus hidup&#8221;. </p>
<p>Hingga akhirnya Edward O. Wilson, ahli serangga (entomologi), menulis buku Sociobiology: The New Synthesis pada 1975. Dunia ilmiah guncang, sebab pemangku jabatan Pellegrino University Research Professor di Harvard University itu menawarkan pandangan yang radikal pula. Wilson mendefinisikan sosiobiologi sebagai &#8220;studi sistematis mengenai basis biologis dari seluruh perilaku sosial&#8221;. Bab mengenai zoologi dalam buku ini, yang berkaitan dengan serangga sosial, kelompok ikan, burung, gajah, dan karnivora pada umumnya diterima oleh publik luas. Tapi, bab akhirnya, yang menyangkut perilaku manusia, telah memantik kontroversi akademis paling riuh-rendah pada 1970-an. </p>
<p>Sosiobiologi, dalam bentuknya yang paling mutakhir, memang dirumuskan oleh Wilson itu. Namun, akar-akarnya ternyata lebih tua lagi. Penggunaan pertama istilah sosiobiologi tampaknya berasal dari Warder C. Allee, Alfred E. Emerson, dan kawan-kawan seperti mereka tuangkan dalam buku mereka, Principles of Animal Ecology (1949). Begitu pun, Wilson-lah yang dianggap sebagai orang yang meletakkan dasar-dasar sistematis mengenai sosiobiologi. </p>
<p>Kritik kencang berdatangan. Pandangan lama muncul kembali dan disuarakan oleh ahli genetika di Columbia University, Theodosius Dobzhansky. Ia, pada akhir 1963, menulis: &#8220;Kebudayaan tidak diwariskan melalui gen, ia diperoleh melalui (proses) belajar dari manusia lainnya.&#8221; Dalam pandangan Dobzhansky, gen-gen manusia telah menyerahkan nilai utama mereka dalam proses evolusi manusia kepada kebudayaan&#8211;suatu agen nonbiologis atau superorganik yang sama sekali baru. </p>
<p>Di saat itu sosiobiologi mempelajari perilaku hewan-sosial dan berkembang dari studi-studi dalam biologi, yang menyangkut jumlah makhluknya, dan genetika. Riset pada serangga-sosial (istilah untuk serangga yang perilaku sosialnya menonjol), khususnya semut dan lebah madu, menunjukkan bahwa mantra &#8220;seleksi alam&#8221; milik Darwin tampaknya tak berlaku untuk kelompok ini. Kasta pekerja kedua spesies itu tidak melakukan kegiatan reproduksi semata untuk kepentingan mempertahankan hidup sendiri. Tapi, mereka bahkan ikut mempertahankan sarang tempat hunian bersama, meski itu mengancam kehidupan mereka. </p>
<p>Bagaimana perilaku sosial itu dijelaskan? </p>
<p>Jawabannya mulai mengkristal ketika Hamilton pada 1964 mengembangkan konsep inclusive fitness. Artinya, bukan saja keberhasilan reproduksi sendiri yang dipertahankan, tapi juga keberhasilan reproduksi kerabat. Dalam serangga-sosial, seluruh pekerja yang lahir dari ratu yang sama berarti saudara, dan karena itu mereka akan bekerja sama. Jadi, jika seseorang mengalihkan logika evolusi ke dalam gen, perilaku serangga-sosial itu mulai bisa diterima oleh akal. Ketika pekerja mati dalam mempertahankan sarangnya, mereka sesungguhnya tengah mempertahankan pula kelangsung gen-gen mereka&#8211;yakni, yang ada di tubuh saudara-saudara mereka. Menurut Hamilton, saudara sekandung saling berbagi separo gen mereka. </p>
<p>Saat hewan yang dianalisis, situasi relatif aman-aman saja. Namun, menjadi amat kontroversial ketika analisis semacam itu diterapkan pada perilaku manusia. Misalnya, bahwa perilaku jahat manusia dapat dianalisis melalui sosiobiologi&#8211;sesuatu yang dicurigai mengarah pada sikap-sikap rasialis dan prasangka. Situasi yang ditimbulkan memang panas. Contoh baik mengenai kontroversi itu ialah konferensi mengenai genetika dan perilaku kriminal yang terpaksa dibatalkan pada 1993 di University of Maryland. Sebagian peserta menyajikan teori dan data berkaitan dengan genetika perilaku kriminal pada manusia. </p>
<p>Mengapa data itu kontroversial? Sangat sederhana, kita hidup dalam masyarakat yang memiliki tradisi filosofis bahwa perilaku kita terutama dibentuk oleh lingkungan eksternal kita. Ketika orang lain berpendapat bahwa lingkungan internal kita, gen-gen kita, juga memiliki kekuatan untuk membentuk perilaku kita, kita tersentak. Menarik untuk dicatat bahwa kita tidak memiliki respons yang sama dahsyatnya ketika sosiobiologi diterapkan pada hewan lain. (Meski kita patut pula bertanya: apakah manusia tergolong &#8220;hewan&#8221; sehingga tak berhak bereaksi secara berbeda?) </p>
<p>Kaum pro-lingkungan memperoleh amunisi tatkala tahun lalu Proyek Genome (pemetaan genetik manusia) mengumumkan sebagian hasilnya, bahwa kita memiliki jumlah gen (39 ribu) jauh lebih sedikit daripada yang pernah dipikirkan (100-150 ribu). Menurut kelompok ini, hasil riset itu memperkuat pandangan mereka bahwa pengaruh lingkungan jauh lebih kuat dalam membentuk cara manusia bertindak. Menurut mereka, klaim-klaim bahwa manusia terpenjara dalam gen runtuh secara dramatis. &#8220;Kita tidak cukup memiliki gen untuk membenarkan ide determinisme biologi,&#8221; kata Dr. Craig Venter, ilmuwan AS yang perusahaannya, Celera, memainkan peran besar dari proyek genome. &#8220;Keragaman spesies manusia yang begitu mengagumkan tidak terpatok oleh kode genetis kita. Lingkungan kitalah yang kritis.&#8221; </p>
<p>Manakah yang benar? Jawaban yang tepat dan memuaskan masih harus dicari, misalnya apakah jawabannya mesti sepenuhnya memihak ke determinisme genetis atau ke determinisme lingkungan. Tak bisakah, umpamanya, kita melihat bahwa ada hubungan yang rumit di antara kedua faktor krusial itu daripada sekadar yang satu lebih unggul ketimbang yang lain. Sebab, manusia pada dasarnya sebuah kompleksitas. </p>
<p>Di luar itu, sikap saling-berbagi-keyakinan di antara mereka yang bertikai kadang-kadang memang mengherankan. Barangkali, kontroversinya menyerupai Wars of the Roses, yang seluruh pihaknya meyakini hak ilahiah raja-raja. Bukankah mereka sama-sama menerima premis materialisme. Bukankah mereka yakin, paling tidak untuk tujuan sains yang mereka percayai, bahwa materilah yang eksis, dan bahwa pikiran dan kesadaran semata-mata konfigurasi khusus yang menyertai materi. Siapapun yang mempercayai premis itu, logis saja, juga meyakini evolusi. </p>
<p>Konflik ini, karena itu, bisa pula dipandang dengan cara yang lebih rileks sebagai pertikaian antara para profesor yang berusaha memahami kehidupan di bumi&#8211;berbeda dalam soal detail, tapi sepakat dalam premis kunci: setiap hal yang mengacu kepada kreator atau desainer harus diasingkan dari biologi. Prinsip ini dipeluk erat layaknya kaum kreasionis mempercayai apa yang tertulis dalam kitab suci. Bolehlah dikutip apa yang ditulis Richard Dawkins dalam The Blind Watchmaker: &#8220;Biologi adalah studi tentang hal-hal yang rumit, yang memberi kesan pada apa yang tampak sebagai dirancang untuk tujuan tertentu.&#8221; </p>
<p>Tak peduli apakah kubu Wilson tidak bersepakat dengan kubu Lewontin dalam soal tarik-menarik antara gen dan lingkungan, yang jelas untuk soal yang satu itu mereka bersetuju. dian basuki/pelbagai sumber </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Apa Perlunya Menjadi Manusia? </p>
<p>Sejak terbit kira-kira 25 tahun yang silam, Sociobiology: The New Synthesis langsung memancing debat panas. Edward Wilson dituding terburu-buru tatkala menarik simpul yang dia temukan dari analisisnya terhadap perilaku hewan (baca: serangga) kepada manusia. Ia mengusung argumennya dari untuk bukan-manusia ke perilaku manusia&#8211;dari 27 bab Sociobiology hanya bab akhir yang fokus pada manusia. Oleh penentangnya, Wilson dianggap telah melakukan &#8220;lompatan keyakinan&#8221; dengan mengabaikan satu soal pokok: perbedaan kultural di antara kedua makhluk itu. </p>
<p>Wilson dituding pula menyerupakan masyarakat hewan dengan masyarakat manusia. Misal, dalam populasi serangga, Wilson memakai metafor tradisional &#8220;perbudakan&#8221; dan &#8220;kasta&#8221;, &#8220;spesialis&#8221; dan &#8220;generalis&#8221; sebagai upaya untuk membentuk bingkai diskriptif. Ia mempromosikan analogi antara masyarakat manusia dan hewan, lalu membawa kita untuk percaya bahwa pola-pola perilaku keduanya mempunyai basis yang sama: perbudakan, kasta, spesialis, generalis. Metafor ini dicemaskan, antara lain oleh Fritjof Capra (The Turning Point), bisa memicu dan membenarkan bentuk-bentuk rasialisme dan seksisme. </p>
<p>Kekeliruan lainnya, menurut pengritik Wilson, ia memandang &#8220;perilaku dan struktur sosial sebagai organ&#8221;&#8211;sebagai perluasan dari gen-gen. Saat berbicara perihal indoctrinability, misalnya, ia menyatakan bahwa &#8220;manusia secara absurd mudah mengindoktrinasi&#8221; dan karena itu &#8220;gen-gen yang bersesuaian&#8221; semestinya ada. Argumen serupa dipakai untuk &#8220;gen-gen homoseksualitas&#8221; dan gen-gen untuk &#8220;kreativitas, kewirausahaan, stamina mengemudi dan stamina mental&#8221;. Jika seseorang berperilaku homoseks, umpamanya, dapat disimpulkan secara genetis ia mewarisi sifat homoseks. </p>
<p>Bila begitu halnya, bagaimana faktor-faktor genetika dapat mengontrol perilaku jika struktur sosial dalam suatu kelompok dapat berubah cepat hanya dalam beberapa generasi saja? Wilson tentu saja tidak menolak fleksibilitas dan perubahan cepat dalam tindakan manusia. Tapi ia berpendapat, periode evolusi yang standar terlalu pendek untuk melihat adanya perubahan yang bersifat mendasar&#8211;evolusi berlangsung dalam rentang waktu yang amat lama, dan karena itu perubahan lingkungan mempengaruhi perilaku secara lamban. </p>
<p>Sosiobiologi ala Wilson juga dianggap mengandung paradoks-paradoks. Raymond Bohlin, Ph.D., (&#8220;Sociobiology: Cloned from the Gene Cult,&#8221; Christianity Today, 23 January 1981), menilai pandangan-dunia sosiobiologi tidak menawarkan apa-apa &#8220;kecuali kekecewaan ketika sampai pada kesimpulan logisnya&#8221;. Kendati mengecewakan, toh teori itu&#8211;ini yang membuat Bohlin heran&#8211;masih juga didukung oleh sebagian komunitas ilmiah. </p>
<p>Berupaya menunjukkan kelemahan ide sosiobiologi, Bohlin membedah empat fondasi teori itu. Pertama, bahwa sistem sosial manusia dibentuk oleh proses-proses evolusioner; bahwa masyarakat manusia hadir dalam bentuknya yang sekarang karena mereka bekerja, atau paling tidak telah bekerja di masa lampau, bukan karena adanya wahyu. Bohlin, sebagai penganut agama yang kuat, menolak ide ini. </p>
<p>Kedua, adanya apa yang disebut oleh ahli sosiobiologi Robert Wallace sebagai reproductive imperative, yakni tujuan tertinggi dari setiap organisme ialah untuk bertahan hidup dan melakukan reproduksi. Sistem moral eksis karena mempromosikan kemampuan manusia untuk bertahan hidup dan melakukan kegiatan reproduksi. </p>
<p>Ketiga, individu&#8211;paling tidak dalam kaitannya dengan waktu evolusi (evolutionary time)&#8211;tidak memiliki arti apa pun. Spesieslah, bukan individu-individu, yang berkembang dan terus ada di sepanjang waktu. Edward O. Wilson menyatakan bahwa organisme, tubuh Anda, tak lebih dari kumpulan DNA (deoxyribonucleic acid)&#8211;materi dasar kromosom yang membawa sifat-sifat genetis yang diturunkan. </p>
<p>Keempat, seluruh perilaku bersifat mementingkan diri sendiri (selfish), atau paling tidak bersifat pragmatis, pada tingkat yang paling dasar (Richard Dawkins menulis buku yang sangat laris tentang soal ini: Selfish Genes). Kita mencintai anak-anak kita karena cinta merupakan alat efektif untuk membangkitkan peran reproduksi yang efektif. </p>
<p>Wilson dengan gamblang menjelaskan akibat-akibat prinsip ini dalam bukunya, On Human Nature (1978), ketika ia menulis &#8220;&#8230; tak ada spesies, termasuk kita, yang memiliki tujuan melampaui imperatif-imperatif yang diciptakan oleh sejarah genetisnya sendiri (yakni evolusi) &#8230; kita tidak mempunyai tempat khusus untuk dituju. ..&#8221; Wilson mengatakan, karena manusia dibentuk oleh evolusi semata, mereka tidak mempunyai tujuan di balik bertahan hidup dan reproduksi. </p>
<p>Di mata pengritiknya, pandangan Wilson itu melahirkan kekosongan. Karena ahli sosiobiologi mengklaim bahwa seluruh perilaku sangat bersifat mementingkan diri sendiri (selfish), bahwa satu-satunya tujuan organisme ialah bertahan hidup dan melakukan reproduksi, dan bahwa spesies-lah yang bertahan hidup, bukan individu, maka &#8220;nilai dan martabat personal lenyap&#8221;. </p>
<p>Maka, apakah jika seseorang mati, kematian itu lantas sama sekali tanpa makna? Siapa pula yang peduli apakah saya, anda, atau siapa pun bereproduksi atau tidak? Apakah ini berarti manusia dipaksa hidup dengan kebohongan&#8211;ilusi mengenai harapan dan makna? Dalam upaya menjawab serangan itu, seorang guru besar filsafat di University of Minnesota menyawab, ada dua macam harapan dan makna: dalam huruf kecil (yang berarti bertahan hidup dan reproduksi) dan dalam huruf besar (yang berarti nilai dan signifikansi tertinggi). Kita semua memiliki harapan dan makna dalam huruf kecil, tapi mungkin tidak dalam huruf besar. </p>
<p>Bila demikian, lantas apa perlunya menjadi manusia? db / Koran Tempo</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=6&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/ketika-manusia-terpenjara-dalam-gen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendamaikan Darwinisme dan Kristen</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/mendamaikan-darwinisme-dan-kristen/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/mendamaikan-darwinisme-dan-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 06:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Evolusi Baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/mendamaikan-darwinisme-dan-kristen/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah ilmu dan agama ditakdirkan saling bermusuhan? Setiap anak sekolah belajar bagaimana Galileo dipaksa berlutut untuk menarik kembali kepercayaannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, atau bagaimana Gereja bangkit melawan lagi pada 1859, ketika Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species yang berpendapat bahwa semua organisme hidup, termasuk manusia, merupakan hasil dari proses evolusi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=5&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah ilmu dan agama ditakdirkan saling bermusuhan? Setiap anak sekolah belajar bagaimana Galileo dipaksa berlutut untuk menarik kembali kepercayaannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, atau bagaimana Gereja bangkit melawan lagi pada 1859, ketika Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species yang berpendapat bahwa semua organisme hidup, termasuk manusia, merupakan hasil dari proses evolusi yang lama dan lambat. Kini, terutama di Amerika, banyak umat Kristen, yang disebut Kreasionis, masih berpendapat bahwa asal-usul manusia dapat ditemukan pada bab-bab awal Genesis, bukan pada penemuan ilmiah mana pun. <span id="more-5"></span></p>
<p>Tapi, saling pengaruh antara evolusi dan agama lebih kompleks dibanding oposisi dan konflik. Gagasan evolusi lahir dari agama. Yunani kuno tak mengerti kemajuan, waktu terarah, dan sejarah linier, yang berpuncak pada manusia. Konsep ini adalah warisan Yudeo-Kristen, dan di abad ke-18 para evolusionis awal–orang-orang seperti kakek Charles Darwin, Erasmus Darwin–membingkai gagasan mereka dalam konteks tanggung jawab religius tentang asal-usul ini. </p>
<p>Darwin pun banyak dipengaruhi gagasan Kristen, khususnya pada hal yang kita paling sedikit harapkan: dalam kepercayaannya tentang seleksi alam–kutukan Gereja–sebagai alasan kuat adanya evolusi. Darwin berpendapat bahwa lebih banyak organisme dilahirkan dibanding yang dapat selamat dan bereproduksi; bahwa hal ini membawa ke arah suatu perjuangan eksistensi; dan keberhasilan dalam perjuangan ini sebagian mencerminkan perbedaan fisik dan tingkah laku antara pemenang dan pecundang. Para pemenang adalah yang menyesuaikan diri dengan baik dengan lingkungannya–itulah, mereka mengembangkan corak yang membantu mereka untuk selamat dan bereproduksi. </p>
<p>Di belakang penekanan Darwin pada adaptasi terletak hasil pendidikan Kristennya. Satu argumentasi tradisional untuk keberadaan Tuhan, yang disebut “argumentasi dari rancangan,” menekankan bahwa bagian-bagian organis beradaptasi dan satu-satunya cara mereka bisa menjadi ada adalah melalui kerja sejenis kecerdasan. Mata, misalkan, seperti sebuah teleskop. Karena teleskop punya pembuat teleskop, mata pun harus punya pembuat mata–Ahli Optik Agung di Langit. Darwin menerima alam-seperti-rancangan dari organisme dan bagian-bagiannya ini. Tetapi, ketimbang memilih Tuhan Kristen, ia lebih suka pada konsep ilmiah tentang seleksi alam. </p>
<p>Ilmu dan agama masih bergumul di atas warisan teori evolusi Darwin melalui seleksi alam. Seperti biolog Oxford terkenal Richard Dawkins berkata, “Walaupun ateisme mungkin dapat dipertahankan secara logis sebelum Darwin, Darwin membuatnya mungkin untuk menjadi suatu ateis yang terpenuhi secara intelektual.” Tanpa seleksi alam, seruan kepada Tuhan bermakna. Tetapi, setelah Darwin dan seleksi alam, kita punya suatu penjelasan tanpa-kendali-Tuhan bagi adaptasi, membuatnya mungkin untuk menjadi seorang tak beriman, bahkan di hadapan alam-seperti-rancangan dari organisme dan bagian-bagiannya. </p>
<p>Tetapi, Dawkins melangkah lebih jauh dan membantah bahwa jika seseorang adalah pengikut Darwin, kemudian pantaslah orang itu menjadi ateis. Dawkins setuju dengan kaum Kreasionis pada satu hal: ketidakcocokan Darwinisme dan Kristen. Di dalam bukunya, River Out of Eden, ia menulis, “Semesta yang kita amati memiliki secara tepat properti yang kita mungkin harapkan jika, pada pokoknya, tanpa rancangan, tanpa tujuan, tanpa kejahatan, dan tanpa kebaikan, tanpa yang lain kecuali ketidakacuhan buta yang kejam.” </p>
<p>Di tempat lain ia menyerang agama secara langsung: “Sejenis pandangan atas alam semesta yang dipeluk orang-orang religius secara tradisional itu telah menjadi lemah, menyedihkan, dan kecil dibandingkan bagaimana alam semesta yang sesungguhnya. Alam semesta yang diperkenalkan agama-agama terorganisasi adalah alam semesta pertengahan yang kecil dan membosankan, dan sangat terbatas.” </p>
<p>Sekarang, saya, untuk satu hal, tidak cukup yakin bagaimana semesta pertengahan yang membosankan itu sesungguhnya. Kebanyakan pemikir kemudian kembali menerima perkiraan Arab bahwa alam semesta membentang 200 juta mil ke seberang sana, ruang yang cukup untuk melempar beberapa kucing–atau para ateis Oxford! </p>
<p>Tapi tak pelak lagi, apakah Anda percaya atau tidak pada eksistensi Tuhan Kristen (atau tuhan jenis lain), kesimpulan muram Dawkins tak terjadi. Anda mungkin tak harus menjadi seorang Kristen dalam terang Darwinisme, tetapi ini tidak berarti bahwa Anda tak bisa menjadi dia. </p>
<p>Pada kenyataannya, Paus Yohanes Paulus II, lelaki yang umumnya tidak dilukiskan bersikap lembut dalam soal komitmen religiusnya, telah secara terbuka mendukung evolusi, bahkan Darwinisme. Benar, ia menuntut intervensi khusus bagi kedatangan jiwa manusia, tetapi jiwa (jika semacam itu ada) adalah konsep yang bagaimanapun sukar secara ilmiah. </p>
<p>Orang-orang seperti Dawkins, dan Kreasionis dalam hal itu, melakukan kesalahan tentang tujuan ilmu dan agama. Ilmu berusaha menceritakan kepada kita dunia fisik dan bagaimana ia bekerja. Agama mengarahkan pada memberi suatu tujuan kepada dunia dan tempat kita di dalamnya. Ilmu mengajukan pertanyaan langsung. Agama mengajukan pertanyaan ultim. </p>
<p>Tak ada konflik di sini, kecuali ketika orang-orang yang keliru berpikir bahwa pertanyaan-pertanyaan dari satu ranah menuntut jawaban dari ranah lainnya. Ilmu dan agama, evolusi dan Kristen, tidak perlu konflik, hanya jika masing-masing mengetahui tempatnya dalam kehidupan manusia–dan tinggal dalam batas-batas ini. </p>
<p>Michael Ruse<br />
Profesor Filsafat di Florida State University dan pengarang buku Darwin and Design: Does Evolution have a Purpose? </p>
<p>Diterjemahkan oleh Kurniawan. Hak cipta pada Project Syndicate </p>
<p>Koran Tempo</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=5&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/05/mendamaikan-darwinisme-dan-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Richard Dawkins, &#8220;Tukang Pukul&#8221; Darwin</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/richard-dawkins-tukang-pukul-darwin/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/richard-dawkins-tukang-pukul-darwin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 23:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Evolusi Baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/richard-dawkins-tukang-pukul-darwin/</guid>
		<description><![CDATA[Richard Dawkins, salah seorang evolusionis paling populer saat ini, menulis surat terbuka dalam buku kumpulan esai A Devil&#8217;s Chaplain (Selected Essays) kepada anaknya, Juliet. Surat terbuka itu meringkaskan apa yang dianggap sang ayah sebagai satu sikap hidup terpenting: percayalah hanya pada evidence, pada fakta empiris, dan penyimpulan rasional atas dasar fakta. Dan sains adalah wujud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=4&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Richard Dawkins, salah seorang evolusionis paling populer saat ini, menulis surat terbuka dalam buku kumpulan esai A Devil&#8217;s Chaplain (Selected Essays) kepada anaknya, Juliet. Surat terbuka itu meringkaskan apa yang dianggap sang ayah sebagai satu sikap hidup terpenting: percayalah hanya pada evidence, pada fakta empiris, dan penyimpulan rasional atas dasar fakta.<span id="more-4"></span></p>
<p>Dan sains adalah wujud terbaik dari sikap setia kepada fakta. Keberanian untuk membela kesetiaan ini tecermin dalam kerelaan mengikutinya, ke mana pun ia membawa kita, sekalipun itu berarti penolakan kearifan lama. Sikap inilah yang mewarnai tulisan-tulisan Dawkins, dan kerap disampaikan dengan cara mengolok-olok lawannya, dengan sindiran, juga kemarahan. Karenanya, ini adalah buku yang amat bergairah, meski terkadang memang menjengkelkan.</p>
<p>Dawkins mengingatkan anaknya: &#8220;Sementara fakta adalah sumber sains yang telah terbukti keampuhannya, ada tiga hal yang merupakan alasan buruk untuk mempercayai sesuatu: tradisi, otoritas, dan wahyu, yang biasanya diwariskan turun-temurun dan sulit diuji.&#8221; Jebakan-jebakan ini, ujarnya, telah terbukti terlalu sering menyebabkan manusia kehilangan kemampuan berpikir kritisnya. </p>
<p>Bukan kebetulan bila agama merupakan contoh terbaik untuk kepercayaan yang bersandar pada ketiga hal itu. Dawkins memang ateis sepenuh hati, yang dengan amat lugas dan berani membela pilihannya. Ateismenya berlaku bukan hanya untuk agama, tapi juga kepercayaan-kepercayaan New Age, bahkan juga pandangan kaum posmodernis yang berusaha menggerogoti legitimasi sains sebagai unsur terpenting modernitas. Ateismenya bukan hanya merupakan sikap pribadi, tapi ia juga pendakwah ateisme yang gigih. </p>
<p>Entah sejauh mana keberhasilan dakwahnya. Yang pasti, ia berhasil membuat banyak orang awam menjadi memahami teori evolusi berkat gaya penjelasannya yang amat baik. Di antara beberapa biolog yang menulis buku ilmiah populer, Dawkins termasuk yang paling fasih mengungkapkan gagasan Darwin dan neo-Darwinis. Buku-bukunya, seperti The Selfish Gene dan The Blind Watchmaker, adalah langganan rak Best Seller di toko-toko buku. </p>
<p>Kunci efektivitas tulisannya adalah ketrampilannya beranalogi dan bermain metafora (selfish gene adalah salah satu yang mungkin paling jitu sekaligus memancing beragam penafsiran). Merek dagangnya yang lain adalah tonjokan-tonjokan kerasnya terhadap para lawan pemikirannya&#8211;dalam hal yang menyangkut teori evolusi sendiri maupun isu-isu yang lebih umum, seperti agama, etika, dan budaya. Tak meleset jika ada yang menjulukinya &#8220;tukang pukul Darwin&#8221; (Darwin&#8217;s bully). Agama, di samping gerakan New Age, termasuk yang paling sering menjadi sasaran tonjokan kerasnya, karena keduanya menawarkan suatu sistem pengetahuan yang, dalam pandangannya, bertentangan dengan sains&#8211;dengan kesetiaan terhadap evidence. </p>
<p>Bagi Dawkins, agama adalah semacam virus, yang tak berbeda jauh dari virus komputer, atau virus penyakit dari segi perilakunya. Dawkins mengembangkan analogi ini dengan amat serius, dan berujung pada kesimpulan betapa berbahayanya menanamkan virus ini pada anak-anak yang belum memiliki pertahanan diri yang baik. </p>
<p>Dari sisi lain, kepercayaan kepada Tuhan juga tak mendapatkan tempat dalam dunia di mana berlangsung evolusi melalui seleksi alam; evolusi sendiri adalah &#8220;fakta yang mesti diterima sama dengan kita menerima fakta bahwa bumi mengelili matahari&#8221;, tegasnya. Alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya berjalan tanpa tujuan. Kemunculan spesies-spesies yang makin kompleks bukanlah tanda adanya &#8220;kemajuan&#8221; menuju tujuan itu, tapi semuanya akibat kebetulan-kebetulan. Jika ada kasih sayang di alam, maka itu hanyalah akibat sampingan dari persaingan hidup yang berdarah-darah. Namun ini tak berarti bahwa alam itu kejam. &#8220;Alam tidaklah baik dan tidak kejam, tapi semata-mata tak acuh,&#8221; ujarnya. Ketakacuhan tanpa belas kasihan. </p>
<p>Bagi Dawkins, ini tak lantas berarti nilai-nilai moralitas menjadi tidak bermakna. Tugas manusia adalah melawan tirani alam. Pada titik ini agama seringkali difungsikan untuk memberi makna bagi kehidupan yang sesungguhnya tak bermakna. Juga, untuk menghangatkan alam semesta yang dingin, yang tak peduli pada nasib segala makhluk hidup. Namun tidakkah ini berarti memilih hidup dengan ilusi untuk menghindari realitas yang tak bersahabat itu? Anak kecil mungkin dapat hidup bahagia di alamnya sendiri yang kaya dengan berbagai makhluk khayalan, tapi suatu waktu ia harus menjadi dewasa dan tak bisa terus-terusan meyakini keberadaan mereka.</p>
<p>Sebagian besar dari kita adalah ateis sejauh menyangkut makhluk-makhluk khayalan itu. &#8220;Tapi kami hanya selangkah lebih ateis,&#8221; katanya, dengan memasukkan Tuhan sebagai makhluk khayalan juga. Dan semua makhluk khayalan, tanpa kecuali, harus ditolak karena tak ada fakta yang bisa mendukungnya. Penolakan ini adalah cermin kedewasaan berpikir. Apalagi, segala kompleksitas alam semesta, yang di masa lalu dijelaskan dengan mengatakan &#8220;Tuhanlah penciptanya&#8221;, kini telah dapat dijelaskan dengan baik oleh teori evolusi. Lawan Dawkins di sini bukan hanya kaum kreasionis yang menolak evolusi, tapi juga kaum evolusionis teistik, yang membayangkan suatu konsep Tuhan yang masih punya tempat penting dalam alam semesta yang berevolusi. </p>
<p>Persoalannya, kata Dawkins, &#8220;Tuhan&#8221; para ilmuwan itu bukan lagi Tuhan yang menjadi objek penyembahan dalam agama-agama; bukan Tuhan yang dimintai pertolongan dan mengabulkan doa-doa manusia. Karena itulah ia menolak mentah-mentah klaim yang belakangan populer bahwa &#8220;sains dan agama kini mengalami konvergensi&#8221;. Sains dan agama yang hidup dalam harmoni adalah sains dan agama yang telah didefinisikan ulang dengan semena-mena. Jika prinsip-prinsip fundamental fisika diidentifikasikan dengan &#8220;Tuhan&#8221;, jika Albert Einstein, Stephen Hawking, atau Paul Davies disebut sebagai ilmuwan yang religius semata-mata karena mereka mengekspresikan ketakjubannya akan keindahan dan keteraturan alam semesta, &#8220;maka saya pun mesti digolongkan sebagai religius,&#8221; ujarnya. Tapi lalu bagaimana kita menyebut agama orang-orang yang berlutut di depan Salib atau yang bersujud di atas sajadah? Kalau definisi agama terlalu luas, semua orang bisa disebut beragama. Tapi apa salahnya dengan ini?</p>
<p>Masalahnya, Dawkins punya kepentingan lain untuk menyudutkan agama. Ia melihat agama, sebagaimana dipahami secara umum dan dipeluk begitu banyak umat manusia, telah terbukti berhasil memberi motivasi besar kepada pemeluknya untuk melakukan kekerasan tak terkendali. Dan ini terjadi nyaris di semua agama: Muslim yang menyerang gedung WTC di New York ataupun Kristen Irlandia yang meledakkan bom di tempat-tempat umum. Baginya, peristiwa 11 September bukan alasan untuk menyerang Islam, &#8230; tapi Yahudi, Kristen, dan Islam sekaligus! Karena kita terus mendapatkan bukti bahwa agama dapat menjadi amat destruktif.</p>
<p>Apakah ia hanya memusuhi &#8220;agama resmi&#8221;? &#8220;Saya memusuhi &#8216;agama resmi&#8217; sebagaimana saya memusuhi &#8216;agama liar&#8217;&#8221;, katanya. Karenanya ia juga mengkritik dengan amat keras kecenderungan New Age yang berambisi menghadirkan kembali cara tradisional pencerahan jiwa manusia yang menurut pendukungnya telah ditumpulkan sains modern. Bagi Dawkins, upaya menghidupkan &#8220;kearifan lama&#8221; ini seringkali tak jauh dari sekadar keinginan naif menghidupkan takhayul masa lalu di zaman modern. Pendeknya, semua kembali ke sikap dasarnya: menolak segala kepercayaan yang tak memiliki dasar faktual yang kuat.</p>
<p>Dalam suatu kesempatan Dawkins pernah menyebut orang beragama sebagai &#8220;buta, bodoh, dan tertipu khayalannya sendiri&#8221;. Terlepas dari gayanya yang amat merendahkan ketika berbicara tentang agama dan orang beragama, nyatanya kaum agamawan cukup menganggap serius tantangan Dawkins. </p>
<p>Sebagai contoh, Keith Ward, teolog dari Oxford, merasa perlu secara khusus menjawab tuduhan-tuduhan Dawkins. Karenanya, tak mengherankan jika melihat indeks bukunya Dan Tuhan Tak Bermain Dadu, &#8220;Dawkins&#8221; termasuk salah entri terbanyak setelah &#8220;Tuhan&#8221;! Mengomentari buku Ward, seorang komentator mengatakan &#8220;At last, God is beginning to argue back.&#8221; Jika itu benar, maka tampaknya salah satu lawan debat Tuhan, bisa kita katakan, adalah Dawkins.</p>
<p>Sebagaimana Dawkins menyatakan malas berdebat dengan kaum agamawan, Ward pun sebenarnya menganggap mungkin tak ada gunanya mengupayakan tanggapan sistematis atas &#8220;sekumpulan prasangka tak berdasar&#8221; yang diajukan ateis semacam Dawkins. Namun Dawkins menjadi tantangan serius karena, kata Ward, ia adalah ilmuwan yang baik dan penulis yang cemerlang yang mampu membuat orang&#8211;teis maupun ateis&#8211;memahami teori-teori ilmiah dengan baik. Karenanya, &#8220;pembaca mungkin menganggap pernyataan-pernyatan mereka tentang agama memiliki bobot otoritas yang sama beratnya dengan penjelasan mereka tentang sains.&#8221; Yang dilakukan Ward adalah mencoba membandingkan kemampuan hipotesis saintisme materialistis ala Dawkins dengan hipotesis Tuhan sebagai penjelasan untuk fakta-fakta yang diterima sains, termasuk teori evolusi. Ward berupaya menunjukkan bahwa hipotesis yang belakangan lebih masuk akal. Strategi serupa, dengan logika yang lebih ketat, dibangun oleh filosof agama Richard Swinburne.</p>
<p>Tanggapan lain yang patut dicermati datang dari Ian Barbour. Ia juga mengemukakan bahwa ketika Dawkins berbicara tentang agama, sikapnya bukan lagi sikap saintifik, tapi &#8220;saintistik&#8221;. Sumbernya adalah saintisme, ideologi naif yang menganggap sains saat ini sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang bisa menjawab semua persoalan, termasuk persoalan-persoalan di luar ruang lingkup empiris sains.<br />
Yang menarik, dalam bukunya Juru Bicara Tuhan (terjemahan When Science Meets Religion), yang menampilkan tipologi pendekatan mengenai hubungan sains dan agama, Barbour mengelompokkan Dawkins dalam &#8220;konflik&#8221;, bersama-sama dengan kaum kreasionis yang menolak evolusi karena teori ini dilihat bertentangan langsung dengan ajaran agama. Meski sikap keduanya bertentangan sepenuhnya, namun mereka berbagi satu keyakinan yang sama: bahwa sains (dalam hal ini teori evolusi) mendukung pandangan ateistik. Perbedaanya hanyalah bahwa sementara Dawkins menerima evolusi dan menolak agama bulat-bulat, kaum kreasionis menolak evolusi demi mempertahankan agama. </p>
<p>Sikap saintisme tak mengandaikan kerendahhatian yang mestinya selalu menyertai kaum ilmuwan karena keterbatasan metodenya&#8211;dan sesungguhnya sains modern dapat demikian berhasil persis karena secara sengaja membatasi wilayah kajiannya. Nyatanya, jika argumen-argumen Dawkins yang menentang agama (dan perlu dicatat: ini hanya muncul dalam tulisan-tulisan populernya, bukan dalam jurnal ilmiah yang menerapkan peer-review!) diperlakukan sebagai sebuah pandangan dalam, katakanlah, filsafat agama, akan segera tampak bahwa argumen-argumennya tak cukup ketat. </p>
<p>Sesungguhnyalah banyak argumen terpenting Dawkins bukan merupakan barang baru dalam filsafat agama. Persoalan-persoalan seperti theodisi, eksistensi Tuhan, dan sebagainya telah lama menjadi dibicarakan dan, sebagaimana rata-rata persoalan filsafat, tak pernah bisa dikatakan &#8220;telah terjawab&#8221;. Namun adanya masalah-masalah itu tak serta merta berarti bahwa agama telah kehilangan hak hidupnya, karena agama bukan semata-mata persoalan argumen filosofis. Strategi Barbour, dan banyak kaum beragama lain yang menerima evolusi, adalah memisahkan penerimaan teori evolusi yang disepakati para ahli biologi dari penafsiran metafisisnya. </p>
<p>Lepas dari itu semua, Dawkins memang harus diakui sebagai sparring-partner kaum agamawan yang tangguh. Esai-esainya telah menghidupkan kembali masalah-masalah perennial dalam filsafat agama dengan meletakkannya dalam bingkai pembicaraan kontemporer. Juga, mesti diakui, bahwa teori evolusi memang menantang banyak konsep-konsep teologis. Jawabannya tentu bukan dengan menolak evolusi, tapi memahami dengan baik tantangan-tantangan baru tersebut dan mencoba menjawab dengan sebaik-baiknya. </p>
<p>ZAINAL ABIDIN BAGIR, staf pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Pascasarjana UGM. Tulisan ini pernah dimuat di edisi cetak Ruang Baca</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=4&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/richard-dawkins-tukang-pukul-darwin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/agama-buddha-dan-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/agama-buddha-dan-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 18:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/agama-buddha-dan-ilmu-pengetahuan/</guid>
		<description><![CDATA[Buddhaisme itu, bagi saya, merupakan Agama yang sifatnya tidak seperti Agama-Agama lainnya, pun juga merupakan suatu philosophi, yang memiliki sifat-sifat tersendiri; bagi saya, Buddhisme itu seakan-akan merupakan suatu ilmu pengetahuan. Philosophi, atau ilmu filsafat, itu umumnya, hanya mempergunakan beberapa bukti, &#8211; yaitu yang dapat dicapai melalui intellect -, dan tidak memperhatikan penggunaan observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=3&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buddhaisme itu, bagi saya, merupakan Agama yang sifatnya tidak seperti Agama-Agama lainnya, pun juga merupakan suatu philosophi, yang memiliki sifat-sifat tersendiri; bagi saya, Buddhisme itu seakan-akan merupakan suatu ilmu pengetahuan.</p>
<p>Philosophi, atau ilmu filsafat, itu umumnya, hanya mempergunakan beberapa bukti, &#8211; yaitu yang dapat dicapai melalui intellect -, dan tidak memperhatikan penggunaan observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen. Para penganut Religi-Religi dan philosophi-philosophi yang demikian itu, kalau berbicara atau mencari berbagai jenis dan tingkatan kasunyataan (= truth), sikapnya menentang kasunyataan yang didapat oleh para sarjana.<span id="more-3"></span></p>
<p>AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN</p>
<p>Banyak umat Buddha yang percaya bahwa Agama Buddha itu didalam membicarakan tata kasunyataan, membahasnya secara tertentu, sedang ilmu pengetahuan (= science) itu didalam membicarakan tata kasunyataan, membahasnya secara tertentu, lainnya lagi. Beberapa orang didalam membicarakan keduanya menyimpulkan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa Agama Buddha dan ilmu pengetahuan itu bertentangan, satu terhadap yang lainnya. Untuk sebagian dari mereka, para sarjana, apabila diminta memikirkan semua aspek dari Agama Buddha, mengatakan bahwa memikirkan hal yang demikian itu, merupakan hal yang nonsense.</p>
<p>Saya fikir, keduanya, baik umat Buddha, maupun para sarjana, mengalami salah pengertian, mengenai pandangannya, yang satu terhadap yang lainnya. Jika saya diminta untuk mendefinisikan keduanya, yaitu ilmu pengetahuan dan Agama Buddha, maka pertama-tama, saya akan menunjukkan terlebih dahulu bahwa Agama Buddha itu juga adalah suatu ilmu pengetahuan. Saya percaya bahwa apabila hal ini diketahui, Agama Buddha akan memperoleh kedudukan yang sangat penting, dan mempunyai pengaruh yang besar di Dunia Barat, karena memang Agama Buddha memiliki persyaratan untuk layak menerima kedudukan yang demikian.</p>
<p>Kita semua ini, umat Buddha dan para sarjana, di Dunia Timur dan di Dunia Barat, adalah sama-sama manusia biasa, memiliki indria penerima yang sama, mempunyai anggota-anggota tubuh yang sama, dan memiliki system syaraf sentral yang sama, dan dahulu juga pernah sama-sama menjadi anak. Selagi masih kanak-kanak, kita telah belajar dengan semua peralatan yang dapat kita peroleh. Kita telah mempergunakan indria-indria penerima kita, untuk memperoleh informasi-informasi dari dunia, termasuk juga mengenai tubuh-tubuh kita sendiri. Kita melihat dan mendengar, merasakan, mencecap, dan mencium sesuatu. Kita telah melakukan aksi-aksi didalam dunia kita, untuk mengadakan eksplorasi, mengadakan eksperimen-eksperimen dan menemukan sesuatu, serta telah mengadakan observasi terhadap hasil-hasil aksi-aksi kita itu. Akhirnya, kita telah belajar berbicara dan berhitung. Kita telah belajar memberi deskripsi atas yang kita persepsi didalam symbol-symbol, &#8211; yang menyangkut dunia-dunia, angka-angka, dan diagram-diagram-, serta kita telah menggaplikasikannya didalam landasan logika terhadap symbol-symbol tersebut dan mengkonstruksikannya didalam kepala kita sebagai suatu model symbolis dari alam semesta, termasuk diri kita sendiri.</p>
<p>Ilmu pengetahuan (= science) itu secara aksaranya, berarti pengetahuan (= knowledge). Secara sederhana, ilmu pengetahuan itu dapat kita terangkan sebagai pengetahuan tentang kasunyataan (= truth) yang berisi pemahaman terhadap alam semesta, yang haruslah dapat kita definisikan seteliti dan sepenuh mungkin, serta yang kita capai pemahamannya itu melalui penggunaan indria-indria penerima kita, anggota-anggota tubuh kita, serta otak kita, secara serempak. Itu adalah pengenalan atau pemahaman kita yang menyangkut penggunaan semua kemampuan manusia, dan usaha-usaha sebijaksana dan seteliti mungkin, yang telah kita fikirkan semendalam-mendalamnya terhadap semua bukti-bukti yang dapat kita kumpulkan, mengenai alam semesta dan isinya, termasuk diri kita.</p>
<p>Didalam prakteknya, itu menyangkut sejumlah besar hasil observasi banyak orang, yang dilakukan secara teliti, setapak demi setapak, mengenai keseluruhan alam semesta, dengan eksperimen-eksperimen dan dengan mengobservasi hasil-hasilnya, disertai kegiatan mendeskripsi apa yang telah diobservasi, yang dilakukan secara hati-hati, dengan penggunaan methode terpilih, dengan menggunakan symbol-symbol yang telah distandardisasi, yang disusun dan diatur dengan logika yang sangat ketat. Para sarjana itu merupakan putera-putera masa yang akan datang.</p>
<p>Beberapa orang pada semua periode sejarah telah melakukan observasi-observasi yang sangat teliti, telah menemukan penemuan-penemuan, sebagai hasil dari penggunaan akal secara brilian. Ilmu pengetahuan adalah penggabungan bersama-sama atas semua observasi-observasi, penemuan-penemuan, deskripsi-deskripsi, dan analisa-analisa, yang demikian itu, dan senantiasa secara terus menerus mengumpulkan hasil-hasil penyelidikannya, menjadi makin banyak lagi, serta mengaturnya untuk saling berhubungan yang satu dengan yang lainnya, untuk dapat mencipta pemahaman yang paling baik atas alam semesta, yang dapat dicapai oleh manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, prasangka yang buruk terhadap ilmu pengetahuan kita merupakan sikap yang tak memiliki dasar yang kuat, karena berarti berprasangka buruk terhadap semua isi pengertian-pengertian manusia. Ilmu pengetahuan, itu menurut definisinya, tidak dapat memisahkan, atau melalaikan, sesuatu bukti, dan tidak dapat melalaikan penggunaan methode-methode yang telah dimiliki oleh manusia. Itu tidak merupakan pandangan yang sempit terhadap alam semesta, serta juga tidak menggunakan methode yang sempit. Apabila kita dapat merasa gembira dan merasa sangat tenteram, dengan memiliki ilmu pengetahuan itu, maka itu berarti ilmu pengetahuan telah dapat memberikan sumbangannya, seperti yang diharapkan oleh para sarjana; dan ini menjadi tantangan bagi para sarjana untuk memberikan bukti-buktinya.</p>
<p>Pada umumnya, Religi-Religi, atau Agama-Agama, itu berkeadaan berbeda dari ilmu pengetahuan, didalam hal bahwa Agama itu mempercayai terdapatnya sesuatu, sejenis pengetahuan, yang diluar kemampuan manusia untuk mengalaminya. Philosophi, atau ilmu filsafat, itu umumnya, hanya mempergunakan beberapa bukti, &#8211; yaitu yang dapat dicapai melalui intellect -, dan tidak memperhatikan penggunaan observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen. Para penganut Religi-Religi dan philosophi-philosophi yang demikian itu, kalau berbicara atau mencari berbagai jenis dan tingkatan kasunyataan (= truth), sikapnya menentang kasunyataan yang didapat oleh para sarjana.</p>
<p>Kita ketahui, dan yang barangkali para sarjana tidak mengetahuinya, bahwa Agama Buddha itu bukan merupakan Religi atau philosophi, yang sifatnya seperti Religi atau philosophi yang lain-lainnya. Agama Buddha itu tidak seperti disiplin akademis, yang hanya menggunakan kata-kata dan lambang-lambang, yang dicantumkan pada lembaran kertas kerjanya saja. Dan didalam Buddhisme, Sang Buddha itu tidak didewa-dewakan oleh para penganutnya. Ajaran Sang Buddha bukan berasal dari sumber yang sifatnya ekstrasensoris. Walaupun sangat luar biasa kehebatannya, Sang Buddha adalah tetap manusia biasa, dan kemampuannya juga adalah merupakan hasil belajarnya, yang dengan mempergunakan semua yang didapat beliau gunakan : indria-indria reseptornya, anggota-anggota tubuhnya, dan otaknya.</p>
<p>Selanjutnya, kami dapat mengatakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa Buddhisme itu membicarakan pengetahuan yang sama, seperti yang dibicarakan oleh ilmu pengetahuan, &#8211; ialah pengetahuan yang dapat didekati oleh manusia.</p>
<p>Pangeran Siddhartha, yang kemudian mencapai tingkat Buddha itu, dibesarkan didalam tradisi Hindu, yang banyak membicarakan tentang pengalaman manusia, &#8211; yaitu kehidupan didalam mana manusia mengalami segala sesuatu : sensasi-sensasi, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, emosi-emosi dan lambang-lambang. Orang Hindu itu telah mengadakan observasi bahwa pengalaman manusia itu, secara normal, berada didalam keadaan disorganisasi, mengalami kekacauan jiwa, yang tak henti-hentinya, dari keragu-raguan, ketakutan-ketakutan, was-was, menyesal, teror-teror, dan keinginan-keinginan yang menyala-nyala, yang diluar pengontrolan diri. Walaupun hal-hal yang demikian itu, semuanya dialami secara umum oleh semua manusia, didalam tingkatan, yang sukar ditentukan rendah-tingginya, orang Hindu melihatnya sebagai suatu keadaan semacam sakit, dan lalu mereka memperkembangkan tehnik-tehnik penenangan, yang mirip-mirip dengan yang akhir-akhir ini oleh Dunia Barat mencarinya dalam penggunaan obat-obat penenang.</p>
<p>Walaupun Pangeran Siddhartha, yang hidup didalam kemewahan, dilindungi keamanannya secara ketat, dan dalam keadaan serba kecukupan segala-galanya, namun beliau dapat menyadari sepenuhnya akan pengalaman tentang disorganisasi kepribadian, atau sakitnya jiwa, pada diri kebanyakan orang, yaitu dengan adanya perasaan-perasaan ketidak-puasan dan ketidak-tenangan. Kemudian beliau memutuskan untuk memberikan kesembuhannya secara tuntas.</p>
<p>Pokok pembicaraannya, oleh karena itu, adalah pengalaman, dan tujuannya adalah, dua hal, yaitu memahaminya, serta menyembuhkan penyakit-penyakit yang secara umum diderita semua manusia, yang diistilahkan dengan istilah dukkha.</p>
<p>Kita memiliki sejumlah besar ingatan-ingatan tentang perjuangannya, untuk memahami dan untuk mengubah pengalaman-pengalamannya. Beliau tidak melalaikan informasi-informasi yang ada, tetapi mengumpulkan semua informasi itu untuk beliau cari keterangannya, dengan jalan mengadakan analisa yang logis. Pangeran Siddhartha juga tidak menolak methode-methode yang ada, dan mencoba methode-methode itu, hingga terbukti bahwa methode-methode itu tidak benar, atau tidak baik. Beliau selalu mengobservasi pengalaman beliau sendiri, dengan keadaan tidak terikat dan dengan kejujuran yang ketat, tidak memanjakan diri. Akhirnya, setelah mencoba-coba segala sesuatu, beliau menemukan jalan, yang tepat, dan dapat menyembuhkan pengalamannya, yang dinamai dukkha itu.</p>
<p>Beliau lalu mendirikan diatas semua yang dihadapi dengan ditemukannya itu, suatu theori yang logis, dan yang diutarakan secara teliti. Sang Buddha telah mewariskan semua theori dan methode-methodenya kepada para pengikut beliau, didalam bahasa yang mudah dimengerti, tanpa ada sesuatu yang tidak diberikan, atau disembunyi-sembunyikannya.</p>
<p>Sudah selama dua setengah ribu tahun, karya Sang Buddha telah ditest dan diperkembangkan oleh banyak manusia-manusia yang brillian, dan didalam waktu tersebut, sudah ribuan orang yang berhasil didalam mengubah pengalaman-pengalaman mereka, sesuai dengan yang dikatakan oleh Sang Buddha.</p>
<p>Karena methode ini, karena sikap mentalnya yang berpijak dibumi yang nyata, karena jiwa yang bebas menanyakan segala sesuatu, yang digabungkannya dengan theorinya yang logis, dengan observasinya yang tajam dan teliti, serta dengan applikasinya yang praktis, yang menyebabkan Buddhisme di masa-masa yang lampau, begitu sukar untuk diklassifikasi. Atas dasar keterangan yang jelas mengenai definisinya yang demikian itu, maka dapatlah kita lihat dan fahami bahwa Buddhisme itu memiliki ciri-ciri yang sama seperti ciri yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan. Saya tidak melihat alasan-alasan, dan saya heran, mengapa Buddhisme itu tidak diistilahkan sebagai ilmu pengetahuan. Buddhaisme itu, bagi saya, merupakan Agama yang sifatnya tidak seperti Agama-Agama lainnya, pun juga merupakan suatu philosophi, yang memiliki sifat-sifat tersendiri; bagi saya, Buddhisme itu seakan-akan merupakan suatu ilmu pengetahuan.</p>
<p>Karena materi kasarnya bagi studi dan therapy-nya adalah pengalaman, Buddhisme itu dapat diistilahkan sebagai ilmu pengetahuan tentang pengalaman.</p>
<p>Yunani Kuno, lama setelah munculnya Hinduisme, mulai tertarik perhatiannya kepada psyche, yang mereka lihat sebagai suatu essensi, roh (= soul) atau semangat (= spirit), yang membuat benda-benda itu hidup. Pada abad ketujuh belas Masehi, di Inggris, istilah psyche memperoleh tambahan arti, yaitu sebagai jiwa (= mind). Kemudian, didalam abad yang sama, muncul untuk pertama kalinya, istilah psychology, suatu gabungan perkataan psycho-dan-logy, yang berarti studi tentang roh atau jiwa manusia (the study of the human soul or mind).</p>
<p>Psychology ini tetap merupakan gabungan antara religi dan philosophy, sampai abad ke-sembilan belas. Lalu itu mulai menjadi ilmu pengetahuan, dengan meninggalkan konsep roh (= soul), dan bahkan lalu juga meninggalkan konsep jiwa (= mind), untuk akhirnya mengkonsentrasikan perhatiannya pada studi tentang pengalaman. Orang-orang seperti Wundt, dan kemudian Freud dan para penganutnya, mengambil pengalaman sebagai subject penyelidikannya, dan mempelajarinya dengan methode introspeksi.</p>
<p>Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tentang pengalaman, lalu tersusun kembali secara keseluruhan. Adalah menarik untuk diketahui bahwa saat itu lalu mungkin merupakan sejarah barunya dari psychology, yaitu karena kena pengaruh dari Dunia Timur, atau barangkali karena kena pengaruh filsafat pada ketika itu, psychology sebagian mengalami perubahan dari studi terhadap roh, menjadi ilmu pengetahuan instrospective tentang pengalaman.</p>
<p>Selama masa abad sekarang ini, psychology telah meluas dan mencakup juga studi tentang tingkah-laku, sehingga sekarang ini telah diterima secara umum bahwa psychology telah menjadi ilmu pengetahuan tentang pengalaman dan tingkah-laku (the science of experience and behaviour). Namun psychology masih terlekati oleh nama yang kurang baik, yaitu faktanya, berdasarkan arti aksaranya, psychology itu berarti suatu studi tentang roh atau jiwa (study of soul or spirit).</p>
<p>Psychology itu tidak hanya studi tentang pengalaman dan tingkah-laku saja, tetapi, seperti Buddhisme, juga berusaha untuk mengubah pengalaman dan tingkah-laku. Ahli ilmu jiwa, sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan psychology itu, lebih dari pada hanya merupakan ilmu pengetahuan yang biasa, seperti Buddhisme, haruslah dapat memunculkan suatu cara kehidupan yang baru, suatu filsafat kehidupan yang baru, nilai-nilai yang baru, dan kode tingkah-laku, yang baru.</p>
<p>Buddhisme dan psychology yang introspective, itu lalu, meliputi tepat sama dalam satu landasan, dan secara sama dan tepat, juga memiliki aktualitas atau scope yang potensial, yang sama. Kiranya orang tidak perlu khawatir, bahwa Buddhisme itu akan dijadikan bagian dari psychology, atau diterangkan berdasarkan theori-theori psychologis.</p>
<p>Diterimanya Buddhisme sebagai ilmu pengetahuan tentang pengalaman, itu menyebabkan diperlukannya penulisan kembali dan pemikiran ulang keseluruhan sejarah dan garis arah perkembangan psychology. Nama psychology pun, terasa kuno, dan perlu diganti, tanpa akan banyak yang menentangnya.</p>
<p>Perlulah untuk diketahui bahwa orang-orang Hindu-lah, bukan orang-orang Yunani, yang telah meletakkan dasar untuk studi tentang pengalaman. Pula, perlu untuk diketahui bahwa Buddhisme-lah, bukan psychology, yang merupakan ilmu pengetahuan tentang pengalaman, dan Pangeran Siddhartha-lah, yang menjadi pendiri dan Bapak dari ilmu pengetahuan tersebut, bukan Wundt atau Freud. Penemuan Pangeran Siddhartha tentang cara penyembuhan yang radikal, untuk menyembuhkan disorganisasi mental, atau penyakit-penyakit jiwa, adalah cukup sempurna dan lengkap, bahkan tanpa ditambah dengan sumbangan cara-cara penyembuhan yang lainnya pun, mampu menyembuhkan kepribadian yang mengalami disorganisasi, sehingga beliau benar-benar merupakan tokoh paling besar di bidang ilmu pengetahuan, dan tampaknya merupakan tokoh paling besar yang belum ada tandingannya. Apakah Buddhisme itu secara historis, bertanggung-jawab atas munculnya psychology yang ilmiah, atau tidak, itu tidak mengubah fakta, bahwa psychology hanya merupakan perluasan masa belakangan, dari Buddhisme.</p>
<p>Apabila hal-hal tersebut diatas, telah diketahui, Buddhisme tentu memperoleh kedudukan yang sangat penting di Dunia Barat, dan ilmu pengetahuan Dunia Barat tentu akan memperoleh theori dan therapy tentang pengalaman, yang jelas, pada suatu waktu, tampak masih sedikit yang dimilikinya itu.</p>
<p>Oleh :<br />
GERALD DU PRE</p>
<p><a href="http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=905">http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=905</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=3&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/agama-buddha-dan-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/hello-world/</link>
		<comments>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 18:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=1&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/philosophi.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/philosophi.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/philosophi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/philosophi.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=philosophi.wordpress.com&amp;blog=1845641&amp;post=1&amp;subd=philosophi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://philosophi.wordpress.com/2007/10/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
