Nihilisme Albert Camus

Oktober 12, 2007

Bagi Nietszche, juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tak ada. Sementara nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada.

Nietzsche dan Camus
Dalam semangat membangun metafisika yang kokoh dan memeluk kebenaran secara mantap, kita diguncang oleh anomali, yang justru selalu hadir sebagai oase dalam kekeringan makna. Seringkali secara skeptis dan negatif disebut dua contoh Friedrich Nietzsche dan Albert Camus. Tak ayal Nietzsche adalah musuh agama, akibat warta lancangnya mengenai kematian Tuhan. Secara nyinyir ia mengatakan bahwa kebudayaan Eropa yang berciri Platoniko-Kristiani telah runtuh. Bangsa manusia segera akan memasuki abad nihilisme, ketika nilai-nilai dibalikkan dan kebenaran moral lama tak memadai lagi untuk diyakini. Sampai di sini saja kita sering membaca Nietzsche sehingga berakhir pada kesimpulan gegabah: Ia filsuf nihilis. Benarkah demikian? Boleh jadi. Namun alih-alih sekedar berpretensi menumbangkan tatanan moral dan nilai lama serta merintih pedih dalam gelimang pesimisme, ia justru menawarkan satu cara lain memandang dunia dan kebenarannya. Dalam übermencsh atau manusia-adi yang menari-nari di atas seutas tali yang rentan, melambangkan seorang manusia-beresiko yang bersedia berjerih tidak gegabah memilih secara apriori pembedaan sempit: baik-buruk, benar-salah. Baginya apa salahnya memeluk keduanya, toh seringkali yang kini kita bela sebagai benar suatu ketika justru dicaci maki sebagai kesesatan, dan sebaliknya yang kini kita gelontori hujatan justru tak mustahil suatu saat akan disembah-puja. Bagi Nietzsche tidak relevanlah pertanyaan: lalu mana yang benar? Ia hanya ingin menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang butuh-percaya, tak peduli isinya benar atau salah. Contoh mutakhir makin menjelaskan, misalnya begitu mudahnya orang berpindah-pindah agama, atau keyakinan ideologis yang ekstrem, atau simaklah betapa dapat dihitung dengan jari orang beragama yang paham betul saripati ajaran agamanya. Bahkan ia mengajak kita untuk tak mudah memercayai setiap ajakan menolak sesuatu, katakan ateisme. Dalam ateisme pun terdapat ambisi untuk percaya dan mencari pegangan, yakni percaya bahwa Tuhan tidak ada. Sains yang berpretensi menjadi ilmu yang objektif dan bebas-nilai sekalipun tak pelak seringkali jatuh dalam sekedar kebutuhan-untuk-percaya semata. Tampaklah bahwa Nietzsche tidak meminati metafisika, meski tak sedikit yang menuduhnya bermetafisika juga, karena bagi Nietzsche ‘ada’ itu adalah kehendak de Wille zur Macht (kehendak untuk kuasa). Tawarannya adalah afirmasi pada kehidupan, Ja-Sagen, bahwa hidup sudah sepantasnya diterima lengkap dengan suka cita dan deritanya, tak pada tempatnya kita sekedar memilih-milih yang enak-enak saja. Maka relevanlah apa yang seringkali ia katakan ‘hidup di permukaan secara mendalam’. Ia mencintai hidup apa adanya, amor fati. Justru di sinilah keutamaan manusia dipulihkan, tak sekedar terombang – ambing ambil dalam ketidakpastian yang terus diratapi sebagai takdir dan memenjara, melainkan manusia bebas-merdeka yang teguh karena ia sadar, paham akan arti hidup dan kehidupan. Itulah nilai bagi Nietzsche, bukan semata-mata perbuatan-perbuatan yang dilandasi pamrih dan diselubungi kesalehan demi nilai-nilai.
Albert Camus tak ubahnya Nietzsche. Ia dianggap penerusnya dan menggugat Allah dalam kaitannya dengan kenyataan duniawi yang absurd. Dunia yang konon digenggam Allah yang maha-kuasa namun disesaki derita dan kejahatan yang tak terpahami. Lantas apakah Camus jatuh dalam kemeranaan psikis dan absurditas mutlak yang akhirnya menganggap hidup ini tak bernilai? Tidak. Ketimbang sedih-meratap atau kasar-mengumpati Allah dan takdir, ia menawarkan sebuah perlawanan yang heroik. Yang ditolaknya: moralitas Kristen, dan titik tolaknya jelas:absurditas terkait problem of evil, melimpahnya kejahatan di tengah iman kepada Allah yang personal. Jika hidup ini absurd, apakah pilihannya lantas mengakhiri hidup ini lewat bunuh diri? Tidak. Camus sangat menentang bunuh diri! Alih-alih mengamini nihilisme zamannya ia mengajak manusia melawan absurditas sekuat tenaga, seperti gambaran Sisifus dalam bukunya The Myth of Sisyphus. Ketika Allah telah mati dan dunia absurd, ia menemukan manusialah yang harus berjuang. Artinya ia percaya pada manusia. Metafisika Camus adalah “transendensi-horisontal”, pada humanitas.

(berbagai sumber)

Iklan

Menjual Nihilisme dalam Retorika, Demokrasi dan Sofisme

Oktober 12, 2007

Demokrasi menuntut keahlian berpidato. Ini konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketika tiap individu ingin dan berhak turut serta berbicara dan mengetahui apa yang telah dan akan terjadi pada wilayahnya, pada saat itu pula retorika terjadi.

Kebebasan yang dibawa demokrasi memungkinkan dan juga mengharuskan orang untuk pandai dalam berpikir dan renyah dalam menyampaikan. Jika orang yang berbicara tidak meyakinkan dan tidak sedap diikuti, orang pun bebas untuk berpaling. Kondisi seperti itu tentu merugikan bagi sejumlah orang yang memiliki kepentingan tertentu. Baca entri selengkapnya »

Nihilisme ala Nietzcshe

Oktober 12, 2007

Nietzcshe pernah ngomong kalo nihilisme bukan sekedar sebuah kontemplasi filosofis tentang kesia-siaan nilai dari segala sesuatu, bukan juga sekedar seruan tentang kehancuran segala sesuatu. Nihilisme, pada prinsipnya merupakan ajaran yang menceritakan tentang kehancuran nilai, memiliki titik akhir, yaitu ketiadaan. Nihilisme berarti segala sesuatu adalah nihil.
Tulisannya tentang “keinginan untuk berkuasa” berisi gagasan tentang nihilisme yang meencoba mendudukkan manusia menjadi Tuhan bagi dirinya dan menegasikan Tuhan sebenarnya. Baca entri selengkapnya »

Nihilisme

Oktober 12, 2007

Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Baca entri selengkapnya »

Filsafat

Oktober 5, 2007

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”. Baca entri selengkapnya »

Ketika Manusia Terpenjara dalam Gen

Oktober 5, 2007

Ada dua orang guru besar yang berkantor di Museum of Comparative Zoologi milik Harvard University. Mereka, meski ruangannya berbeda hanya satu lantai, jarang sekali mau bertegur sapa. Bahkan, untuk waktu yang lama, keduanya tidak bercakap-cakap kendati bertemu di elevator. Penyebabnya adalah persengketaan soal mana yang benar: gen atau lingkungan yang paling menentukan pola perilaku seseorang. Baca entri selengkapnya »

Mendamaikan Darwinisme dan Kristen

Oktober 5, 2007

Apakah ilmu dan agama ditakdirkan saling bermusuhan? Setiap anak sekolah belajar bagaimana Galileo dipaksa berlutut untuk menarik kembali kepercayaannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, atau bagaimana Gereja bangkit melawan lagi pada 1859, ketika Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species yang berpendapat bahwa semua organisme hidup, termasuk manusia, merupakan hasil dari proses evolusi yang lama dan lambat. Kini, terutama di Amerika, banyak umat Kristen, yang disebut Kreasionis, masih berpendapat bahwa asal-usul manusia dapat ditemukan pada bab-bab awal Genesis, bukan pada penemuan ilmiah mana pun. Baca entri selengkapnya »

Richard Dawkins, “Tukang Pukul” Darwin

Oktober 4, 2007

Richard Dawkins, salah seorang evolusionis paling populer saat ini, menulis surat terbuka dalam buku kumpulan esai A Devil’s Chaplain (Selected Essays) kepada anaknya, Juliet. Surat terbuka itu meringkaskan apa yang dianggap sang ayah sebagai satu sikap hidup terpenting: percayalah hanya pada evidence, pada fakta empiris, dan penyimpulan rasional atas dasar fakta. Baca entri selengkapnya »

AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN

Oktober 4, 2007

Buddhaisme itu, bagi saya, merupakan Agama yang sifatnya tidak seperti Agama-Agama lainnya, pun juga merupakan suatu philosophi, yang memiliki sifat-sifat tersendiri; bagi saya, Buddhisme itu seakan-akan merupakan suatu ilmu pengetahuan.

Philosophi, atau ilmu filsafat, itu umumnya, hanya mempergunakan beberapa bukti, – yaitu yang dapat dicapai melalui intellect -, dan tidak memperhatikan penggunaan observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen. Para penganut Religi-Religi dan philosophi-philosophi yang demikian itu, kalau berbicara atau mencari berbagai jenis dan tingkatan kasunyataan (= truth), sikapnya menentang kasunyataan yang didapat oleh para sarjana. Baca entri selengkapnya »

Hello world!

Oktober 4, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!